NESYA PUSPITA PUTRI

Thursday, 22 August 2013

CINTA DALAM DIAM3 (You’r My Destiny)




Iklim tropis yang terasa hangat ku  nikmati setibanya ke Indonesia. Sudah bertahun-tahun  lamanya aku kuliah di Malaysia. Rasanya seperti berabad-abad aku tinggal disana. Negara yang begitu indah panoramanya, negara yang kaya akan budaya,negara yang memilik berbagai macam cita rasa, dan masih banyak lagi. Ku injakan kaki di kota yang dijuluki kota kembang, kota yang kaya akan kuliner, fashion, wisata, dan lainnya. Dimana lagi kalau bukan Bandung. Kerinduanku menjalar pada setiap sudut hatiku, kerinduan akan kulinernya, macetnya kadang-kadang, orang-orangnya yang ramah, bahasa sundanya, dan pasti rindu akan keluargan dan teman-temanku. Ayah dan  ibu menjemputku di bandara Husen setelah dzuhur. Sebelum pulang kerumah, kita berkeliling untuk sedikit bernostalgia dengan hiruk pikuk sudut kota Bandung. Walau sedikit merasa capek, tapi semua itu terbayar dengan asyiknya perjalananku dan keluarga.
Akan ku gapai impianku sebagai penulis di Indonesia. Di Malaysia aku kuliah di International Islamic University of Malaysia.
 Aku ingin sekali menjadi seorang novelis. Alhamdulillah aku sudah menulis beberapa buku yang siap diterbikan. Aku ingin buku-buku ku di terbitkan oleh redaksi di Indonesia agar dapat memajukan Indonesia dan bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda Indonesia. Aku menulis semua yang ingin aku tulis, dari novel islami, cerita anak-anak, novel remaja, dan lain sebagainya.
Alhamdulillah salah satu bukuku diterbitkan. Novel berjudul “My first love” .  Novel remaja yang menceritakan tentang cinta pertamanya namun tak pernah ada pengakuan dan kepastian. Dan akhirnya dengan restu Alloh, mereka dipertemukan kembali setelah  lost contect 15 tahun lamanya. Novel ini berbicara tentang takdir Alloh, dimana tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ini adala novel yang diangkat dari kisah nyata diriku sendiri. Acara launching diadakan di Balai Kota Bandung, ku undang beberapa temanku termasuk Icha. Tapi aku tidak melihat sosok Adit dan Ezha, entah kemana mereka. Padahal aku sering mengirim e-mail pada mereka.

Hari dimana launching novelku berlangsung, aku bangga sekali. Ada beberapa bintang tamu seperti Radi Aditya, Oki Setiana Dewi, dan lain sebagainya. Wah, hebat sekali. Ini hari yang istimewa. Dulu aku yang selalu datang saat adanya launching atau seminar. Dan sekarang aku yang melaunhingkan bukuku, subhanalloh. Acara berjalan dengan sukses, Radtya dan oki memberikan komentarnya terhadap novelku, kita berdiskusi bersama.
Usai acara ku hampiri Icha. Kita berbincang-bincang dan bernostalgia. Icha yang bawel, bising, riweuh tetep aja ga berubah. kita berdua mengulang kembali masalalu dengan pergi ke tempat-tempat tongkrongan kita di daerah dago.
“put tau ga? Adit udah nikah tau” jelas icha yang sontak membuatku kaget setengah mati.
“hah? Masa?” dengan mata membelalak ku bertanya lagi untuk mendapat kepastian
“iya put, pas banget kamu pertama datang ke Indonesia. Dia sengaja ga kasih tau kamu. Dia nikah itu karena terpaksa harus tanggung jawab. Ceweknya hamil diluar nikah. Soalnya pas aku kesana, perut ceweknya aga berisi gitu. Mungkin dia malu sama kamu. Aku erita ke kamu biar kamu  ga berharap atau salah paham sama dia. Tapi bukan dia yang hamilin ko, dia hanya kasihan dan bertanggung jawab soalnya itu cewek temen dia dari kecil. Ceweknya diperkosa sama temannya sendiri, dan temannya meninggal bunuh diri” jelas icha tanpa titik koma pada putri
“astagfirullohal adzim.... subhanalloh. Adit sangat luar biasa, dia mau bertanggung jawab sebesar itu. nanti aku akan menemui dia dan istrinya”
Jujur, aku tidak merasa cemburu, kecewa atau apalah itu. mungkin perasaanku memang hanya sebatas kagum padanya. Jadi tak ada efek apa-apa saat berita itu sampai ditelingaku.
“terus Ezha kemana?” tanyaku cemas
“aku ga tau put. Beberapa  lama setelah kamu pergi ke Malaysia. Ezha pun pergi, tanpa pamit padaku. Tuh anak ngilang aja. Kan aneh. Aku hubungi tuh ga bisa, aku cari kerumahnya tuh ga ada. Keluarganya pindah. Dia kan suka pindah-pindah ga jelas gitu deh sama keluarganya” jelas icha panjang lebar
“oh iya, mungkin.” Jawabku singkat, dua orang yang aku kagumi pergi dari hidupku. Ya, mungkin  ini takdir. Aku tak banyak berkomentar. Aku hanya diam, mengenang semua masalalu. Orang yang aku sayang selalu pergi meninggalkanku. Aku hanya pasrah pada yang Maha kuasa. Aku tau, Alloh merencanakan sesuatu untukku yang mungkin akan indahpada waktunya atas ijin-Nya. Amiin....
Aku dan icha pergi menuju rumah adit dan  istrinya tinggal. Mereka tinggal di daerah cibiru. Di sebuah rumah yang sederhana namun nyaman dan kehangatan keluarga sangat terasa. Adit menceritakan semuanya, dan ternyata benar dengan cerita Icha. Tapi Adit menyayangi Vivi sebagai istrinya dengan tulus.kita semua seperti reunian gitu. Walau memang aku dan Adit ada sedikit ke canggungan. Aku masih teringat surat yang diberikan Adit bahwa dia akan menungguku. Ya, mungkin ini jalan dari Alloh. Pasti Alloh menyimpan suatu rencana lain untukku.
š
Meratapi semua yang terjadi padaku, kuterdiam dan hanyut dalam lamunanku. Tiba-tiba suara hp membuayarkan lamunanku tadi.
“hao assalamualaikum”
“waalaikumsalam, ini putri? Bisa datang ke kantor saya besok jam 10 pagi. Ada hal yang harus dibicarakan” pak Rizky, redaksi penerbit novelku
“oh iya pak. Insya Alloh saya kesana pak.”
“ok sip, ditunggu.”
Entah apa yang ingin beliau bicarakan denganku, hal ini sedikit mengganggu pikiranku. Kesokan harinya aku pergi ke kantor beliau. Tok tok tok.... ku mengetuk pintu ruangan beliau.
‘’assalamualaikum pak, ini putri”
“waalaikusalam put masuk”
“ iya pak, ada perlu apa bapak menyuruh saya datang kemari?”
“iya nih, novel kamu yang judulnya “my first love” ditaksir sama salah satu sutradara untuk diangkat sebagai film layar lebar. Disitu kan ceritanya islami tuh, jadi ga ada pacaran atau apalah. Nah, biar ada pesan moralnya buat penonton dan kamu yang jadi pemainnya.” Jelas pak Rizky padaku. Dengan sorot mata yang tajam dan kening yang berkerut aku terdiam, membisu seribu bahasa.
Percakapan ini semakin serius, sutradara itu ingin menjadikanku artis di film yang diangkat dari novelku. (Aku seorang novelis juga sebagai artis. Subhanalloh, alhamdulillah hamba bersyukur padaMu ya Alloh) gumam ku dalam hati.
“tapi sutradara bilang  kamu harus main film sama cowok yang jadi cinta pertama kamu. Biar dapet chemistry dan orang-orang jadi penasaran.” Jelas pak Rizky
“wah pak, harus ya? Tapi putri udah lama banget ga kontekan sama dia.” Jelasku dengan nada sedikit cemas
“tenang, pak sutradara yang akan mengatur semuanya. Saya hanya minta alamat pria itu saja”
“oh iya pak, semoga saja dia sedang tidak sibuk dan ingin bekerjasama atas proyek in pak’’
“iya, semoga saja”
Ku ceritakan semua ini pada Icha, dia malah sempat tak percaya. Entahlah aku saja bingung. Kalau memang jadi, segimana canggungnya aku berhadapan dengan Senja. Kita sudah 15 tahun tidak bertemu. Apa film ini akan berhasil? Aku juga kan bukan artis. Tapi pernah sih bikin film pendek gitu. Tapi kan Cuma gitu aja. Haduh.... bingung deh. Aku serahkan semua ini pada Allah .
š
            Ku langkahkan kaki menuju rumah pak Vino, beliau adalah sutradara yang akan membuat film dari novelku. Entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganjal pada hatiku, bukan cemas, bukan pula resah, tapi entahlah aku juga bingung. Setibanya dirumah pak Vino.
“assalamualaikum.....” ucapku
“waalaikumsalam, oh putri. Masuk put. Temen kamu udah nunggu dari tadi” pak Vino mempersilahkanku duduk.
Teman? Siapa ya? Tanya ku dalam hhati. Saat ku  masuk kedalam rumah. Seorang pria memakai celana jeans hitam, kemeja merah dengan kancing yang terbuka, dan kaos hitam pendek didalamnya sedang duduk diatas sofa berwarna biru dengan wajah menunduk memainkan hp nya. Sontak iya pun menoleh kearahku saat aku masuk.
“hah? Senja?” mata ku menganga melihat pria yang menjadi cinta pertamaku dulu.
“putri.....” dia menyebut namaku dengan senyuman khas yang tidah berubah dari dulu.
“silahkan diminum” istri pak vino menyuguhi kami minuman dan beberapa makanan ringan.
“iya bu, terimakasih” jawabku dan Senja kompak
Kami sempat diam sejenak, aku yang asyik dengan pikiranku. Pikiran yang penuh dengan kabingungan, dan Senja pun asyik dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba serentak kami mengambil minum bersamaan. Kami saling menoleh satu sama lain. Aku langsung memalingkan tatapanku menuju cangkir yang ku genggam.
Deg... deg... deg.... rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada apa ini? Aku coba menguasai diri. ku hela napas panjang untuk menormalkan detak jantungku. Barulah kami membicaraan tentang film yang akan kami buat. Semuanya terencana dengan matang. Usai membahas semuanya, aku pulang terlebih dahulu karena ada janji dengan seorang teman.
“pak maaf, saya pulang dulu. Saya ada janji dengan rekan saya.”
“oh iya put, nanti kita tinggal syuting. Saya akan calling kamu lagi.” Ucap pak vino
“baik pak. Saya pamit dulu. Assalamualaikum pak vino, putri duluan ya Senja.” Aku berpamitan pada pak vino dan Senja
“waalaikumsalam....” jawab pak vino dan Senja
“hati-hati dijalan ya put” Senja melemparkan senyumnya padaku.
Jantungku berdetak lebih cepat lagi. Dan brug... kaki ku tersandung meja yang ada dihadapanku. Sungguh hal yang sangat memalukan. Akupun langsung melangkahkan kaki keluar pintu. Gerogi? Canggung? Malu? Semuanya ku rasakan. Bagaimana pas syuting nanti? Aku harus belajar profesional. Bismillah.....
Syuting pun berjalan di beberapa tempat. Semua kru bekerja keras, dan aku sebagai pemeran utama pun bekerja keras. Tak luput dari Senja, sepertinya ia menikmati perannya. Syuting berjalan selama 1 bulan. Waktu yang menurutku sangat lama, bagaimana tidak? Aku bekerja seprofesional mungkin dihadapan camera apalagi di hadapan Senja. Ku buang semua rasa canggung dan gugupku. Film sudah selesai, kita tinggal tunggu jam terbangnya saja. Selama di tempat syuting, Senja tak banyak bicara padaku. Kami bicara saat adegan saja. Entahlah, mungkin kami masih ada rasa canggung satu sama lain.
š
Ku menengadah menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih yang dihiasi bintang bintang kecil yang bercahaya digelap gulita. Ku terbayang dengan semua kejadian masalaluku dengan Senja dan saat syuting bersamanya. Dia berubah, dulu dia yang bawel, periang, seru, gokil, tapi sekarang dia yang diam tak banyak bicara. Entah ada apa dengan dia, aku selalu bertanya tanya. Rasanya ada perasaan aneh yang kembali timbul dipermukaan hatiku, apa perasaan itu tumbuh lagi. Banyak orang bilang, cinta pertama itu tak akan penah hilang. Tapi, entah lah aku bingung dibuatnya. Ya Alloh, pegangi hatiku. Aku tak ingin membayangkan sosok pria yang bukan mahromku. (gumamku dalam hati) Tiba-tiba hp ku berdering, membuyarkan semua lamunanku. Ku lihat hpku dan ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Assalamualaikum
Put, ini senja.
Apa tak salah baca. Aku mengucek-ngucek mataku. Mungkin aku mengantuk. Tapi itu benar adanya pesan dari senja. Aku pun lekas membalasnya.
Waalaikumsalam
Iya ja, ada apa?
Sungguh kebetulan sekali saat ku sedang berpikir tentangnya. Ia menghubungiku. Apa ini kebetulan? Mungkin ini rencana Alloh. Beberapa lama kemudian dia membalas pesanku.

Aku menjauh, bukan berarti aku acuh
Aku bungkam, bukan berarti aku tak paham
Aku mengamatimu dari kejauhan
Aku Menjagamu dari kemudharatan
            Aku pergi, bukan berarti aku benci
            Aku menghilang, bukan berarti aku tak sayang
            Rasa sayang ini tumbuh dengan berjalannya waktu
            Dengan kuasa-Nya, aku menjaga namu di hatiku
Jika memang kau wanita yang tertulis di laulmahfudz untukku
Perkenanku tuk menjalin cinta yang halal denganmu
Cinta yang diikat oleh janji suci
Cinta yang ingin ku rajut denganmu di dunia bahkan di surga
Dan ijnkan aku meminangmu deng Bismillah
Mencintaimu dengan asma Alloh
Memuliakanmu dan juga menuntunmu
Dan menjadikanmu makmumku untuk menuju jalan Alloh
Dampingiku saatku kehilangan arah
Dampingiku saat ku jauh dari sang pencipta
Ku ingin menjadi imam mu,
Mengimamimu saat keningmu beradu dengan sajadah
Dan Mengimamimu untuk berfitrah
Bulir airmata ini mengalir lembut membasahi pipi ku, sebuah puisi yang sangat indah, dan paling indah yang pernah ku baca. Setiap rangkaian kata, dan setiap bait mengandung makna. Untaian kalimat syahdu menyentuh titik halus dan merambat memenuhi rongga hatiku. Seakan ku melayang, berpijak pada pelangi yang menawan. Menghirup wanginya bunga dan udara ditaman, dan seakan berdiri diatas awan.

2 comments:

Hendra said...

Kak nesya novel cinta dalam diam ada di terbitkan atau dijual?? Pingin beli :) bagus ceritanya.. Terimakasih

nesya puspita said...

hehhe untuk sekarang sih belum ada. insya Allah ini lagi proses novel (kumpulan cerpen) sama salah satu penulis muda dari malang. salah satu cerpen saya dimuat disana. :) semoga segera terbit. nanti beli ya. hehhe

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons