NESYA PUSPITA PUTRI
Showing posts with label Curhatan. Show all posts
Showing posts with label Curhatan. Show all posts

Sunday, 24 May 2015

Yang Ku Butuhkan Tuntunanmu, Bukan Tuntutanmu!

Yang Ku Butuhkan Tuntunanmu, Bukan Tuntutanmu!
Malam minggu yang kelabu tapi membuatku selalu merindu. Malam minggu yang syahdu, ku manfaatkan menulis kata-kata ini tanpa lantunan lagu. Karena sulit bagiku menuangkan imajinasiku dalam suara suasana yang gaduh.
Malam ini aku bertemu denganmu. Jujur, aku sangat merindukanmu. Tapi bukan merindukan ragamu, tapi merindukan sosokmu yang dulu. kau tau berapa lama cinta kita berpadu? Berbulan bulan lamanya hingga kita niatkan tuk saling menyematkan cincin dan ikatan suci atas nama Illahi. Sebelumnya maafkan aku, tapi ini juga bukan salahku dan pun bukan salahmu. Hati ini bagaikan kurva dengan titik tertentu yang tak beraturan naik dan turun,begitu juga hatiku.Rasa ini bagai goresan garis lurus yang melintang diantara titik titik cintaku padamu, terkadang naik dan tak jarang pun turun. Ini hal biasa dalam sebuah hubungan dua manusia. Garis kurvaku yang dinamis tak menentu kemana arah hati kan membawanya, kini ia jatuh drastis pada titik yang paling rendah. Sekali lagi ku tegaskan, ini bukan salah mu atau pun juga salah ku. Garis kurva ku tetap pada titik jenuh itu, statis tanpa pergerakan menuju perbaikan. Padahal hubungan ini sudah kita rencanakan sampai pelaminan. Tapi entah, aku pun kebingungan. Aku merasa kau tak seperti dulu. Entah ini hanya perasaan ku atau memang kenyataannya begitu. Kau dekat, bahkan sangat dekat. Tapi entah mengapa rasanya sulit menggapai hatimu dengan rengkuhan hatiku yang semakin hari semakin menjauh. Boleh kah aku mencurahkan apa yang terselubung dalam kata-kata ku sepanjang paragraf tadi? Sebelumnya maafkan aku bila aku lancang mengatakan hal ini.
Sayang..... aku merasa kehilangan hatimu dalam ragamu. Hatimu yang dulu selalu memujiku, hatimu yang dulu selalu mengutamakanku, hatimu yang selalu dekat dengan hatiku, dan bahkan hatimu yang menerima segala kekuranganku tanpa menuntut ini dan itu. Tapi kini.... aku tak menemukan hal itu. Bukan aku tak menemukan, tapi aku tak merasakan. Semuanya masih sama, hanya saja saat ini secara tidak langsung kau memaksaku menjadi apa yang kau mau. Aku tau, itu untuk kebaikan ku sekarang dan masa yang akan datang. Tapi mengertilah, ketika cinta terlalu banyak tuntutan ini dan itu, kau tidak akan pernah menemukan kepuasan.
Sayang.... dengarkan aku. Walau aku tau, kau selalu mendengarkanku dengan seksama. Tapi sekarang dengarkan aku sebagai wanita yang hendak menuju dewasa. Jangan menuntutku ini dan itu. walau aku tau kau ingin yang terbaik untuk ku dan untukmu di kehidupan kita yang baru. Tapi dengarlah, setiap apa yang kau inginkan adalah tekanan bagiku. Usia kita yang terlampau cukup jauh membuatku belajar begitu keras untuk mengejar semua yang tertinggal dari mu. Aku diam bukan berarti aku tak bertindak. Aku belajar pada kehidupan. Tapi aku mohon, jangan kau tuntut aku sekeras mungkin. Aku masih belajar, PR ku masih terlalu banyak untuk ku selesaikan. Menjadi wanita sholehah, cantik, anggun, menawan, cerdas dan keibuan siapa yang tak ingin?
Percayalah, aku pun sedang memperjuangkan diri menjadi wanita yang sempurna dimataku, dimata mu bahkan dihadapan-Nya. Jangan tuntut aku dengan semua keinginanmu. Semakin hari aku semakin membunuh waktu ku, menghitung mundur sampai hari dimana kau mengkhitbahku. Hari demi hari aku belajar menjadi wanita seperti itu. jangan paksakan aku, dan jangan menuntut aku. Yang aku butuhkan adalah bimbingan darimu. Yang aku inginkan adalah tuntunan dari mu. Ketika kelak kau menjadi imamku, percayalah semua hal yang aku lakukan akan berdampak baik padaku dan dirimu.
Disini aku belajar sendiri, belajar memahamimu, belajar mengenalmu, belajar menjadi apa yang kau mau. Tapi tidak semudah itu, sayang. Ketika keinginan keinginanmu menjadi obsesi bagimu itu hal yang tidak baik. semoga saja kau tak seperti itu. dampingi aku untuk melewati proses itu. tuntun aku menggapai puncak itu. Jangan pernah bosan dan menyerah. Aku disini siap mendaki tangga-tangga itu asal kau selalu menuntunku dan kita jalan bersama berdampingan. Bukan aku yang berjalan sendirian di belakang dan kau meneriaki ku dari depan.
Aku bercermin, aku bukanlah wanita yang sempurna. Entah itu dalam hal fisik, sifat, kecerdasan, dan hal lainnya. Tapi terimalah aku apa adanya. Lalu kita melangkah bersama dan bergandengan untuk merubah menjadi yang yang lebih biak. Kau menuntunku dan mengajariku segalanya. Bahkan kita bisa belajar bersama dalam sekolah kehidupan ini. bukan malah “Terima kamu lebih dari adanya” (kata-kata mu dulu yang masih terngiang di telinga dan membekas dihatiku). Aku tau kau ingin yang terbaik untukmu, tapi sadarlah ketika aku tak sesempurna itu dan tak secepat itu dalam berproses menjadi apa yang kamu mau.
Sayang.... andai lidah dan bibirku mampu mengatakan hal ini dihadapanmu. Mungkin tulisan ini tak kan ku buat. Lidahku terlalu kelu dan kaku melontarkan segalanya padamu. Tapi percayalah, cinta ini masih setia untukmu. Mungkin aku hanya terlalu merasa sendiri pada proses kemandirian dan kedewasaan tanpa tuntunan darimu. Ingatlah sayang, yang ku butuhkan adalah tuntunan bukan tuntutan J

Friday, 15 May 2015

Assalamu’alaikum calon imam ku...

Assalamu’alaikum calon imam ku...
Di pengujung tahun 2015 ini kan kau sematkan cincin dijari manisku. Kau ikat aku dalam sebuah hubungan yang menjadi pijakan pertama kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Dua keluarga yang akan menjadi satu kesatuan keluarga besar, aku dan kamu yang menjadi perantara semua itu. yakin kah kau dengan pilihan mu? Memilih aku yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu kelak? Menjalin cinta kasih di dunia hingga ke surga? Terlalu banyak pertanyaan bila semua kata tersurat begitu saja.
Statusku yang masih menjadi mahasiswa disalah satu universitas menjadi pertimbangan yang besar. Semester 6 yang menjadi titik kejenuhan ku dalam pendidikan ini. Tapi kehadiranmu dan niat tulusmu mempersuntuingku menjadi kekuatan besar yang mengharuskan ku segera menyelesaikan studiku dan segera mengganti satus menjadi sarjana dan istri mu. Dengan sabar kau menggu ku, dengan ikhlas kau membantuku dalam perjalanan yang berliku. Usia yang baru menginjak 20 tahun ini cukup sulit bagiku. Banyak tanggung jawaab yang aku ku emban, mungkin itu proses pendewasaan. Tapi mengerrti lah, jangan paksakan aku mengejar sikap dan pikiran dewasa mu yang jauh dari usia ku. Biarkan aku bermain dan bebas berkarya dengan komunitas dan teman-teman ku sebelum aku mengabdi padamu wahai calon suamiku. Aku pun tak pernah lelah untuk belajar mendalami agama dan ilmu untuk berumah tangga. Menjelajahi setiab website yang tersedia artikel-artikel yang membahas segalanya tentang pranikah dan pasca nikah. Berguru dari satu ustadz ke ustadz lain dan mengikuti sekolah pranikah demi ilmu yang kelak ku dapat. Mengertilah, kesibukanku saat ini adalah dimana untuk memuaskan hasrat ku yang menggebu. Masa muda masanya berkarya. Agar kelak aku menjadi orang yang berjaya. Bukan hanya untuk diriku, tapi juga kamu dan keluarga.

Mengertilah, sikap kekanak-kanakan ku yang mungkin membuatmu kesal. “Tidak ada yang ideal selama di dunia. Ketika kita berprinsip saling menerima kekurangan masing-masing, proses perbaikan akan mudah dijalankan. Menerima kekurangan tentu saja bukan untuk didiamkan, tapi rela menerima untuk kelak sama-sama saling memperbaiki.” Kutipan yang kuambil dari seorang hamba Allah. Aku mencintai segala kekuranganmu,cintai juga aku dengan kekuranganku. Jangan tuntut aku menjadi apa yang kau mau. Tapi cintai aku agar hatiku luluh dan menjadi istri yang patuh bagimu. Percayalah, kau pria yang luar biasa untukku. Kelembutan sikapmu, santunnya tutur katamu, dan sikap humorismu mampu mencuri hatiku. Bahkan kau mampu mengetahui pribadiku jauh dari apa yang ku tahu. Terimakasih untukmu yang tak pernah lelah mendampingiku untuk menjadi sosok wanita yang dewasa, anggun dan bersahaja.

Saturday, 15 November 2014

SOSOK ITU...

SOSOK ITU...
Pada suatu malam yang dingin yang munusuk tulang lengkap dengan air langit yang menetes seakan memberi kehidupan. Sesosok ibu paruh baya dengan kedua anaknya yang sekiranya berusia 4-6 tahun dan yang berusia dibawah satu tahun. sebuah memandangan yang tidak jarang tergambarkan dalam sebuah bayangan bahkah realita kehidupan yang kejam. Sang ibu dengan pakaian putih lusuh berjalan membelah perempatan jalan kota Bandung. 

Dengan seksama ku perhatikan, lengan kanannya yang terlihat kuat itu mendorong sebuah gerobak kayu usang yang ukurannya lumayah besar yang berisi tumpukan barang-barang bekas tertutup beberapa tumpukan karung. Menambah kesan kuatnya sang ibu itu, seorang anak yang duduk disela-sela tumpukan barang bekas itu dengan tatapan kosong tak bermakna. Sedang tangan kiri sang ibu menggenggam payung yang berwarna hijau tua terlihat melindungi diri dan seorang balita digendongnya dengan sebuah kain. Sebuah payung yang sangat berarti baginya untuk melindungi diri dan buah hatinya dari tetesan air hujan yang menambah dingin suasana malam.

Sosok yang tersamarkan ribuan tetes air hujan lekat-lekat aku tajamkan penglihatan. Lengan dan kaki itu terlihat kuat menopang apa yang ia bawa. Mungkin sosok itu lebih kuat, ketika harus menopang diri untuk tanggung jawab pada kedua buah hatinya.kaki itu melangkah ditengah-tengah lampu merah, puluhan mungkin bahkan ratusan lampu kendaraan menyoroti setiap langkahnya. Dengan cahaya lampu kota yang setidaknya mampu menyinarinya sosok itu berjalan bak artis yang sedang memainkan peran diatas panggung tanpa ragu untuk melenggak dijalanan. Langkahnya semakin cepat, hingga kemudian bayangannya hilang. Dan  setiap jejaknyapun hilang oleh setiap kendaraan yang satu persatu melewati setiap tapaknya.

ATAS NAMA CINTA? 2

ATAS NAMA CINTA?  2

Permasalahan dalam hubungan asmara adalah wajar. Dimana ada pihak yang tersakiti, disisi lain ada pihak yang bahagia satu sama lain. Apakah rasa ingin memiliki adalah cinta? Ya, karena ketika mencintai sesuatu seperti hal yang lumrah kita memiliki hal yang kita cintai itu. tapi bila sesuatu itu tidak bisa kita dapatkan, apakah itu akan berujung pada cinta yang terobsesi? Yang dengannya segala macam dihalalkannya untuk mendapatkan sesuatu itu? itu salah besar. Ketika kita terobsesi memiliki tanpa tahu rasanya memperjuangkan, kita akan merasa sia-sia telah memilikinya. Tapi jika kita ikhlas menerima kenyataan atas apa yang tidak bisa kita miliki, kita telah bersyukur karena sempat mencintainya dalam proses perjuangan tersebut.

Mungkin bagi beberapa orang pernah mengalaminya. Cinta yang mungkin awalnya tidak berniat ingin memiliki, tapi berniat hanya membahagiakan dan hanya mencintai semua itu akan berakhir pada cinta yang terobsesi. Ketika cinta itu semakin lama semakin buta. Ketika cinta itu menggelapkan hati, mata dan pikiran kita. Berarti kita telah men-Tuhankan cinta yang tidak sepantasnya kita jaga. Seperti orang yang terlihat gila tanpa cinta dalam dirinya.

Wednesday, 12 November 2014

ATAS NAMA CINTA? 1

ATAS NAMA CINTA?  1

            Cinta, kata yang tidak pernah habis dimakan jaman. Cinta adalah perasaan yang begitu kuat dan luar biasa sampai bisa menguasai pikiran dan hati kita.  Ketika cinta itu menembus celah-celah hati setiap insan mampukah dia menjaga kefitrahan cinta itu sendiri? Dan mampu kah setiap insan mencintai seseorang dengan perantara Tuhan-nya? Dan bagaimana cinta sejati yang tulus dan murni tanpa campuran maksiat dan setan didalamnya? Begitu banyak problematika yang ada pada cinta itu sendiri. Ketika kita mampu menjawabnya bahkan menapakinya, ketika itu pula kita bisa menjaga cinta dan kefitrahannya.

Para remaja yang saling mencintai dan menikmati dunia dengan segala cinta yang ia miliki pada saat itu lah ketika kehormatan wanita dan ketulusan juga tanggung jawab pria dipertaruhkan. Ketika cinta membisikanmu hal-hal yang indah saat bersamanya, dibalik indahnya bisikan cinta yang membuatmu terbang dengan sayapnya kita tidak akan pernah peduli walau terdapat pedang dibalik sayapnya. Pedang yang siap menikam dari belakang bahkan depanmu. Pedang yang akan siap menerjang  dan membunuhmu dengan perlahan kau terlelap dengan bentuknya dan bisikannya yang indah. Cinta tidak akan pernah salah bersemayam pada hati siapapun, tapi cinta akan berujung dosa dan sengsara bagi dia yang tidak tahu cara mencintai dengan perantara Tuhan-nya.

Friday, 31 October 2014

KEINDAHAN TEBING KERATON

Keindahan Tebing Keraton yang kata orang memiliki panorama yang menakjubkan. Ya, memang benar. Tetapi tidak mudah menempuh jalan ke tebing tersebut, anda harus mempersiapkan segalanya dari mulai jaket untuk alat pelindung dari udara yang dingin, bensin yang penuh karen akan sulit mencari pedagang bensin eceran dan kondisi kendaraan yang baik karena tanjakan, jalanan yang terjal juga berkelok-kelok akan anda lewati. Dan hanya dengan harga Rp.11.000 anda bisa menikmati alam yang sedemikian megahnya.
KEINDAHAN TEBING KERATON
Tebing ini terletak di Kampung Cihagerem Puncak, Desa Ciburial, Dago, Bandung. Tebing batu yang menjorok kedepan ini memiliki panorama yang akan memanjakan mata kalian. Tebing ini dinamakan Tebing Keraton karena keindahan alamnya. Tebing Keraton artinya Kemegahan Alam. Disarankan ketika anda berniat pergi kesana ketika sunrise. Pada saat itu, kabut yang menyelimuti bukit-bukit seakan anda berdiri diatas awan, dan pancaran sinar matahari yang masuk kecelah-celah awan dengan warna keemasan menyinari hamparan hutan pinus dan hamparan sawah yang tepat berada dibawahnya.
KEINDAHAN TEBING KERATON
Bawalah kamera untuk mengabadikan diri anda dengan alam sekitar, karena terlalu menakjubkan jika keindahan alam yang luar biasa itu dilewatkan. Jika anda adalaj sosok yang berani, cobalah untuk berfoto diujung tebing dan turun kebawah tebing untuk mendapatkan view yang lebik menarik. Itu akan membuat temen-teman anda berdecak kagum melihat keberanian anda. Tapi, tetaplah harus hati-hati dan waspada. Jangan sampai bercanda atau lupa diri karena asyiki melihat hasil goresan tangan Tuhan, malah-malah anda jatuh dan sampai pergi kembali pada Tuhan.
KEINDAHAN TEBING KERATON
Pengamanan yang belum maksimal menuntut anda untuk hati-hati dan waspada. Keindahan alam yang seperti ini harus kita jaga bersama dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencorat-coret objek yang ada, dan tidak sembarangan mencabuti tanaman-tanaman yang ada.

KEINDAHAN TEBING KERATON

KEINDAHAN TEBING KERATON

Monday, 24 March 2014

Malam Biru

Malam Biru - Nesya Puspita Putri

Kebetulan adalah nama lain dari takdir Tuhan yang mengejutkan. Dan kebetulan yang indah itu ketika Tuhan mempertemukan kita dan mendekatkan kita satu sama lain dengan cara Tuhan yang mengejutkan. Aku mengenalmu sudah hampir dua tahun, tapi aku mengenalmu baru satu tahun belakangan ini. Sebuah kebetulan dari hasil tangan Tuhan yang memberi kesempatanku  untuk mengenalmu lebih dekat. Biarpun pada awalnya banyak kesalah  pahaman, tapi pada akhirnya kesalah pahaman itu lah yang membuatku mengenalmu jauh lebih dekat dari sebelumnya. Mungkin pada awalnya kita tak saling bicara bahkan tertawa bersama, tapi semua itu berubah. Aku dan kamu terlalu banyak bicara dan tertawa bersama hal itu memulai segalanya. Dimana aku terlalu ceroboh untuk membiarkanmu bertamu di hatiku. Aku tak dapat mengusirmu, daya tarikmu membuatku silau akan sebuah kenyataan bahwa kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat. Mulutku bisa berkata iya, tapi hatiku jelas menolaknya secaara terang-terangan. Sebuah hadiah-hadiah sederhana yang biasa yang kau berikan itu dimataku adalah sebuah hadiah istimewa yang luar biasa. Ku simpan rapih segala yang telah kau berikan dari barang-barang sampai kenangan yang tak pernah terlupakan. Sadarkah kau bahwa sampai sekarang ini aku masih menunggumu?
Dan malam itu tanggal 22 Maret 2014. Kau memberikanku setangkai bunga mawar. Biar dengan bahasa yang berbelit yang sulit ku pahami, namun inilah kesalah pahaman yang indah yang telah ku deskripsikan bahwa memang kau memiliki perasaan yang sama denganku dari satu tahun yang lalu. Tapi aku masih menjaga hatiku agar tak lagi terluka karena mengharapkanmu lebih. Aku belajar mengendalikan hati dan perasaanku. Tapi jika memang tak mampu, itu bukan kesalahanku karena mengagumimu itu bukan sebuah kesalahan melainkan sebuah kebenaran dan anugerah yang Tuhan berikan.

Sunday, 3 November 2013

Merindu

merindukan sosok yang selalu membuatku tersenyum saat melihat hp ku. merindukan sosok penyemangat, merindukan sosok yang dapat membuatku menjadi lebih anggun dan dewasa, merindukan sosok dia yang selalu memperhatikanku. sebuah kisah cinta klasik yang tak ada habisnya untuk dibicarakan. hanya saja waktunya yang berbeda. sekejap diri ini terbuai dengan angan-angan masa depan yang indah denganmu. sosok yang mampu membuatku tumbuh menjadi jiwa yang berani bermimpi dan bercita-cita tinggi. berani mencoba menjadi sesuatu yang baru dan baik bagiku. sosok yang mengubah pola pikirku terhadap lelaki yang pernah membuatku kecewa dan berkhianat padaku. sosok yang mampu membuatku menghormatimu sebagai imamku. sosok yang mampu membuatku tertunduk malu saat beradu pandang denganmu. sosok yang berani aku banggakan kepada semua orang diluar sana. sosok yang selalu membuatku bercermin atas tingkah yang ku perbuat. sosok membuatku sempurna dan utuh dihidupku. sosok yang selalu mengingatkanku kepada penciptamu yang dengan sempurnanya menciptakanmu. walau tak ada makhluk yang sempurna, tapi dimataku kau begitu sempurna. kesempurnaan yang kau miliki mungkin bisa menutupi kekuranganku. pasti pun kau memiliki kekurangan, tapi kau menutupinya dengan semua kelebihanmu. aku tak ingin mencintaimu karena kekuranganmu, karena aku ingin mencintai kelebihanmu. akupun berharap ingin kau mencintai kelebihanku. biarkan kekurangan kita-kita tutupi dengan kelebihan kita. dan kita saling menutupinya. karena aku ingin tumbuh bersamamu. menjadi wanita yang anggun untukmu, menjadi wanita idaman untukmu, menjadi wanita yang layak mencintaimu. sepertinya tak akan habis kata ku tullis tentangmu. aku tak mau namamu hanya tersirat dalam hatiku, tapi juga tersirat dalam do'aku. entah siapa jodohku akupun tak tahu. tapi aku ingin menjadikanmu jodohku dengan cara menghormatimu dan mencintaimu.

Monday, 2 September 2013

Menjelajahi Pasar Malam

malam kemarin (1 September 2013) adalah malam penutupan hari liburanku selama tiga bulan. menjelajahi pasar malam di daerah cileunya, tepatnya dipasar cileunya. bersama hafidz dan idah (teman sekelasku).. aku berangkat menuju pasar malam sekitar jam 7 malam dari rumah bibiku yang terletak di tagog, cibiru, Bandung. awalnya biasa-biasa saja, menikmati suasana pasar malam, berkeliling memandangi hamparan pedagang dan gardu-gardu tiket permainan. ada pedagang sandal, baju, mainan anak-anak, makanan, aksesoris dan pedagang lainnya yang berbaris rapi melingkupi pasar itu. ada beberapa permainan juga seperti kincir, kora-kora (perahu terbang), ombak banyu, komedi putar, dan beberapa permainan lainnya yang tidak aku ketahui namanya. aku dan idah berniat mengantar hafidz membeli sandal, tapi ia tak kunjung membelinya. entah tak ada yang cocok,atau entah apa lah. setelah itu mata kami tertuju pada sebuah permainan bianglala (kincir).
"nes, naik itu aja yu" ujar hafidz sambil menunjukkan permainan itu.
"hayu-hayu. kan ada hafidz sebagai bapak kita yang mau bayarin. hahahh" aku menggoda hafidz sambil menepuk pundaknya.
"Dih, ngerakeun wae" hafidz melangkah dengan raut wajah yang membingungkan aku dan idah tertawa melihat tingkahnya yang konyol itu. kamipun berjalan menuju gardu penjual tiket. setelah membeli tket dengan harga Rp.5000, tiket berwarna pink pun aku genggam erat seakan barang berharga yang tak mau aku kehilangannya. lalu aku dan teman-teman mengantri untuk mendapatkan giliran naik permainan itu. bukan hanya kami saja yang mengantri, ada juga bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, juga para anak muda yang tak ingin ketinggalan sensasi menaiki kincir ini. selangkah demi selangkah kaki kami maju untuk mendapatkan giliran daik. aku, idah dan hafidz mendapatnya satu kerangkeng atau ruang atau entah apalah itu namanya, yang berwarna pink. biar kata pasar malam, biar kata murahan, atau bahkan disebut kampungan, tapi kebahagiaan yang kami dapatkan. bukan masalah 'masa kecil kurang bahagia' tapi memang menyenangkan rasanya menaiki permainam semacam itu. merasakan sensasinya, merasakan seperti kembali seperti anak-anak yang sedang bermain bersama, merasakan seperti tak ada beban apapun. tawa, canda kami lepas di malam itu. kincirpur berputar mengikuti jalurnya, biar aga seram karena bunyi besi yang 'kretek-kretek' tapi kami tetap bisa tertawa dan membuat leliucon garing segaring-garingnya. sesaat kemudian dari atas kincir aku melihat iml (sepupuku) dan yoga (teman imel) berjalan ke arah kincir.
"imel...." refleks aku berteriak dari titik teratas kincir, berharap imel mendengarku dan menoleh kearahkku.
"nesya, ngerakeun wae. teu kenal ah teu kenal. " sepertinya hafidz tutup muka melihat tingkahlaku ku yang seperti ini. hehehe
"wah, wah parah. hehehe" aku dan idah han ya tertawa.
setelah beberapa putaranpenuh, terhentilan kincir itu. kami turun lalu menghampiri imel dan temannya itu. setelah itu kami langsung pergi ke permainan kora-kora (perahu terbang).
"naik itu yuk" ucapku dengan girang menunjuk kora-kora, seperti bocah yang pertama kali melihat permainan itu dan ingin menaikinya.
"asik dibayarin..." celetuk idah dan hafidz yang membuatku manyun.
"yea... yoga yang bayarin" diceplosin deh ngomong gitu ke yoga. hahahah
hafidz mengeluarkan uang 20.00 ribuan dan memberikannya padaku bersamaan dengan perginya yoga ke gardu pembelian tiket. beberapa kemudian...
"ini tiketnya ca" imel meberikan 5 tiket kuning padaku
'nih yoga uangnya. jadi berapaeun?" aku memberikan uang pada yoga
"oh gausah ga usah." sanggah yoga mengangkat tangan kanannya.
"beneran nih? sungguh? ga nyesel?' au meyakinkan yoga, berharap ia benar-benar memberikan tiket itu pada kami secara cuma-cuma.
"ih nesya ngerakeun, masa gw dibayarin cowok" celetuk hafidz dengan llirikan matasinis
"ih, da ga mau dibayar dianya" aku memberikan uang 20.000 ribuan tadi pada hafidz
"makasih bro, jadi ngerepotin" ucap hafidz, sepertinya dengan berjuta kali menahan gengsinya. hihihih
'iya, makasih ya" susul idah
"hatur sembah nuwun....." ucapku sambil sedikit membungkuk. LEBAY. hahahah
imel hanya tersenyum malu dibuatku. setelah itu kami mengantri, tak lama kamipun naik keatas perahu kuning bercorang coklat. imel dan yoga duduk disisi kiri paling atas, sedangkan aku, idah dah hafidz duduk didepannya. awal ayunan perahu itu biasa saja.
"yah... cuma segini' sombongnya hafidz
"iya nih. muka dingin, muka dingin ya. jaim" ucapku
''hahahah mustahil lu bisa muka dingin. diem sedetik aja ga mungkin banget.'' ledek hafidz
"muka dingin kaya ambang (teman sekelasku). eh gw bisa lebih dingin'' hafidz menunjukkan wajah dinginnya, tapi menurutku bungan wajah dingin. tapi wajah yang sedang menahan ingin buang air. hahahah
"fidz, tuh muka dingin atau mau buang air? hahaha" aku dan idah tertawa
lama kelamaan, ayunan perahu semakin luar biasa jauh dan kencangnya.
'' aaaa..... hahahahah" aku berteriak sambil tertawa terbahakbahak. merasakan sensasi menegankan, menggelitik, gemetaran, dan campur aduk deh. tangan kananku menggenggam tangan idah, tangan kiriku menggenggam pegangan besi didepanku. rasanya jantung akan copot, bergetar kakiku dengan hebatnya, berteriak hingga mengeluarkan air mata. sungguh sensasi yang menebarkan sekali. ingin sekali menyudahkan permainan ini, tapi sang pengendali mesin rupanya tak segan menambah kecepatan yang semakin luar biasa. rasanya terhempas kesana sini mengikuti irama ayunan. setelah sekitar 5 menit kami terpontang panting, permainan akhirnya disudahi. aku turun dengan kaki yang masih bergetar. yang lainpun turun, rasanya iingin tertawa terbahak bahak melihat wajah teman-temanku yang beraneka ragam dan ekspresi. hahaha
kami turun dan menenangkan diri. imel dan yoga memisahkan diri. aku, hafidz dan idah berjalan-jalan menelusuri lorong-lorong sempit dipasar malam. beberapa saat aku melihat imel dan yoga menaiki ombak banyu, jauh dari dalam hati ingin rasanya menaiki permainan itu. tapi tubuh yang masih gemetar ini hendak menolak permintaan hatiku. kami langsung saj pergi dan melihat-lihat lagi. setelah itu aku pamitan pulang kepada imel. aku, idah dan hafidz pulang menggunakan angkot (supir pribadi). imel biar diantar yoga menggunanakan motor. sebelum pulang, hafidz membeli kembang gula berwarna pink terlebih dahulu, barulah kami menaiki angkot yang sudah menunggu kami dengan setia disebrang jalan. diangkot kami bercengkrama bersama sambil menikmati kembang gula yang dibeli.
"haduh, urang mual'' dengan mimik wajah yang meyakinkan aku dan idah bahwa iya sepertinya memang benar-benar mual.
"hahahah dih cemen" guyon aku padanya
"wah sigana bail-balik dikerok da. hahaha" idah tertawa melihat hafidz yang seperti itu.
pengalaman dipasar malam dengan teman-teman yang sangat menyenangkan. menyadarkan betapa kebahagiaan itu sederhana dibuatnya. tertawa dan bercanda bersama menghangatkan suasana yang ada. sebuah pertemanan yang amat sangat sederhana namun spesial dibuatnya. biar ini jadi memoriku tersendiri yang kusimpan dalam hati dan juga blog ku. heheheh

Saturday, 31 August 2013

MY ADVENTURE IN JOGJA

Daerah Istimewa Yogyakarta, kota yang sangat ingin ku kunjungi sedari dulu. Namanya saja daerah istimewa, jelas banyak keistimewaan yang terhampar disetiap sudut kota tersebut. Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, aku diijinkan untuk menginjakkan kaki di kota yang penuh dengan budaya dan wisata itu. Lewat sebuah Yayasan Daarul Qur’an milik ust. Yusuf Manshur, aku akan menapaki kakiku ke kota Yogyakarta (penuh semangat). Kalian pasti bertanya-tanya dalam benak kalian, apa hubunganku dengan yayasan tersebut? sekilas cerita yang penuh makna, beberapa waktu lalu  tepatnya di bulan ramadhan aku menjadi salah satu relawan di yayasan tersebut. Menjaga gerai sedekah disuatu tempat di kota Bandung. Pengalaman yang sangat menyenangkan, penuh tantangan dan pengorbanan. Bertemu banyak teman baru yang memiliki kemampuan, pengalaman dan kepribadiannya masing-masing. Sungguh diluar dugaan, aku mendapatkan penghargaan sebagai relawan teraktif, staf kantor dan teman-temanku menyebutnya dengan “relawan tanpa urat malu”. Karena digerai aku sangat aktif dan cekatan menarik donatur untuk mensedekahkan, menzakatkan dan mewakafkan sebagian hartanya pada yayasan kami yang akan kami salurkan yang sebagian besar pada penghafal al-qur’an. Aku mendapatkan piagam, bonus buku ust. Yusuf Manshur, dan beberapa waktu kemudian aku dihubungi orang kantor untuk mengikuti program acara ke Jogja bersama empat staf kantor yaitu kang Maulana, kang Haryadi, kang Ridwan dan teh Alexandria atau yang biasa aku panggil teh Lexi. Dan juga tiga teman relawanku seperti teh Novia, kang Ade dan kang Eko. Pemberangkatan ke Jogja dijadwalkan tanggal 26 agustus 2013. Satu hari sebelum hari pemberangkatan, aku mempersiapkan segalanya untuk ke Jogja dari beberapa potongan baju, celana, sandal, dan barang lainnya yang memang aku butuhkan disana. Merapihkannya pada sebuah ransel hitam besar, dan tambahan tas selempang kecil untuk menaruh dompet dan handponeku agar mempermudah jika ada panggilan masuk atau transaksi lainnya.. Begitu banyak bayang-bayang sisi Jogja yang aku idamkan.
            Aku segera kumpul di Daarul Qur’an jam 4 sore, yang bertempat di jalan P.U pengairan atau belakang R.S Al-Islam. Menunggu semuanya kumpul dan mempersiapkan segalanya. Sungguh tak sabar rasanya ingin segera sampai. Menikmati suasana Jogja yang eksotis, memandang panorama indah disetiap pojokan kota Jogja yang penuh dengan budaya dan wisata. Setelah pukul 5 sore, kami bergegas pergi ke terminal cibiru. Dengan diantar mobil xenia putih yang dikendalikan oleh kang Dede (staf kantor), mobil melaju dengan cepat. Sesampainya di terminal, suara adzan berkumandang, kami langsung bergegas melangkah kerumah Alloh untuk sholat magrib berjamaah.. Hampir satu jam menunggu, bis Budiman jurusan Bandung-Jogjakarta pun datang. Kami segera meletakkan barang-barang di bagasi belakang,aku, teh Novi, teh Lexy dan kang Ridwan duduk dikursi paling belakang sedangkan kang Maulana dan kang Haryadi duduk didepanku, kang Ade duduk didepan kang Maulana. Kang Eko berangkat ke jogja dari Purwodadi. Sambil menunggu sang sopir menancapkan gasnya kami bercengkrama bersama bercerita tentang program kami di Jogja. Duduk dikursi bernuansa biru bercorak penuh warna. Setelah beberapa lama kemudian bispun berjalan dengan kecepatan yang tak biasa. Seperti menaiki rollercoaster, dengan kecepatan penuh sang sopir mengendalikan bisnya seakan melayang-layang dibuatnya. Penumpang bis yang tidak terlalu penuh membuat ruang begitu melegakan, tak ada acara berhimpitan atau apapun itu. Beberapa teman-temanku tertidur lelap disuasana bis yang luar biasa cepat dan ditambah jalanan yang tidak semulus jalan tol. Aku terdiam, melihat panorama indah dimalam hari lewat etalase jendela bis. Begitu sunyi dan begitu damai suasana yang terjadi saat itu. Tak terasa perjalanan sudah sampai daerah Ciamis jam 12 malam, kondektur bis membangunkan penumpang untuk segera turun dan menikmati hidangan makan malam disalah satu rumah makan. Rombongan kamipun ikut turun dan segera mengantri. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk aku lekas mengambil piring, ku isi dengan nasi putih, ati ampela, dan sayur sop. Akupun lekas menempatkan diri dimeja makan yang masih kosong, yang lainnya pun mengikuti. Ku llihat sekelilingku, para penumpang begitu lahap menyantap hidangannya dengan wajah yang mungkin masih setengah sadar. Rumah makan yang cukup luas berdinding cream dan dipadu padankan coklat muda dan dengan hamparan makanan prasmananya.
Usai makan, semua penumpang kembali kedalam bis, dan duduk ditempatnya masing-masing, begitupun aku dan rombongan. Rasanya kenyang sekali, hawa kantukpun semakin melanda kelopak mataku. akupun tertidur tak sadarkan diri, inilah efek karena sedrai dari mataku terjaga memandangi pemandangan malam diluar sana. Dug. Tiba-tiba suara keras terdengar, spontan akupun terbangun. Ku melihat-lihat pada kedaan sekitarku, yang lainpun ikut terbangun saking kerasnya suara tersebut. saat ku menoleh kearah kanan tepat tempat duduk teh novi, kaca jendela yang besar dan tebal itu pecah. Kepingan-kepingan kaca itu berserakan, sampai berhamburan kekursiku. Dengan kesadaran yang belum seutuhnya full, aku dan yang lain ditegaskan untuk pindah tempat duduk. Tak diduga serpihan kaca sampai terhempas kedalam sepatuku, dan memenuhi kerudungku. Teh novi menunjukkan batu yang menghantam pundaknya,
batu lonjong yang halus itu tidak terlalu besar, tapi bisa menembus kaca bahkan menghantam pundak temanku sungguh diluar logika. Ku bergegas pindah kekursi keempat dari belakang. Ku menoleh pada pemandangan luar yang hanya dipenuhi pemakaman, sawah, dan pepohonan. Tak ada kehidupan rasanya. Lantas, siapa yang melempar batu itu? kulihat jam, ternyata pukul setengah tiga pagi. Sungguh sulit dimengerti oleh logika. Setelah kejadian itu, aku tak dapat tidur kembali, rasa khawatir dan takut melandaku. Pikiranku kacau, jantungku berdegup cepat, tanganku mendadak dingin. Ku bergegas berdo’a, memohon perlindungan Alloh yang Maha Kuasa. Aku hanya duduk melamun memikirkan sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan, sebuah kekhawatiran besar yang sangat menggangguku. Sesekali ku menoleh pada kaca bagian kursi paling belakang, lubang kaca itu semakin besar. Seluruh kaca itu rapuh terkoyak goncangan bis yang kuat, serta terhempas angin malam yang kencang. Sebagian dari rapuhan kaca itu perlahan jatuh memenuhi kursi. Aku berjalan kekursi belakang untuk sekedar mengambil minum dan membangunkan kang ade agar pindah kedepan karena hembusan angin yang semakin kencang. Setelah beberapa kemudian, aku tertidur lelap.
Sekitar jam 5 pagi kang Maulana membangunkanku,ternyata kita udah sampai kota Jogja. aku semakin shock rasanya ketika melihat kaca depan supir yang retak.
mungkin terkena hantam batu pula? entah siapa yang melakukannya. alhamdulillah kami sudah sampai Jogja. Rasanya menyebut kata Jogja itu seperti ada sensasi tersendiri. Aku bergegas merapihkan diri, merapihkan wajah yang setengah sadar. Beberapa lama kemudian sampailah kami diterminal Giwangan kota Yogyakarta.
Kami segera turun dan bergegas ke mushola untuk sholat subuh. Ada pihak Daarul Qur’an Jogja yang menjemput kami dengan mobil, kamipun segera berangkat untuk mencari sarapan. Sop pak Min
yang katanya terkenal itu menjadi santapan kami dipagi yang cerah ini. Rumah makan yang sederhana dengan bangunan kayu, kami duduk dikursi dan meja yang terbuat dari kayu pula. Sambil menunggu pesanan, kami sekedar mengemil jajanan yang terhampar dimeja makan. Beberapa tahu goreng, tempe goreng, perkedel dan ba’wan yang aga aneh yang komposisinya itu seperti tahu dan toge tapi rasanya enak. Aku cicipi satu persatu jajanan itu, dengan ala pak bondan di wisata kkuliner aku mengikuti cara beliau mencicipi makanan dan mengomentarinya. Semua tertawa dan bilang kalau aku ini lebay. Ya, seperti itu lah aku. Hehehe setelah hampir nsetengah jam menunggu akhirnya sop pun datang. sepertinya isi sopnya, kenung telur utuh, jeroan ayam, dan rempah-rempah lainnya. rasanya itu.... hmmm... enak sekali.


Setelah sarapan, kami bergegas ke kantor Daarul Qur’an untuk membersihkan diri. kantor yang cukup luas dengan dua lantai diatasnya dan AC yang membuat sejuk ruangan membuat kenyamanan tersendiri.
Setelah membersihkan diri dan berta’aruf dengan  staf kantor, kami segera pergi ke gunung merapi. Petualangan dimulai....
            Perjalanan dari kantor ke merapi cukup lama, entah kami melawati jalur mana aku tidak begitu tau. Aku terpaku pada handpone ditanganku. Beberapa saat kemudian ku tertidur, mungkin mangantuk karena semalaman aku tidak cukup tidur. Rasanya lelap sekali aku tertidur, tidak terasa kami sudah memasuki wilayah merapi. Jalanan berliku dan terjal juga debu yang begitu tebal menjadi trak tersendiri. Sesaat mobil terhenti untuk memberi jalan truk-truk besar yang melintas. Di tengah perjalanan pemandangan begitu indah, tebing-tebing curam, bebatuan yang besar, bukit-bukit yang indah menjadi pemandangan disepanjang perjalanan kami. Kira-kira kami menempuh perjalanan 2 jam. Dari kejauhan sebuah tugu bertuliskan “KAMPUNG QUR’AN MERAPI” menjadi ucapan selamat datang. Kami pun turun dan disambut ramah oleh warga dan pengurus kampung qur’an yang bernama mas Aryo, pria tinggi putih, dengan wajah teduh dan khas jawanya itu. Kami langsung merebahkan diri sejenak di saung qur’an. Setelah melonggarkan kembali otot-otot, ku bergegas keluar. Melihat-lihat sekeliling tempat ini. Ada sebuah masjid yang lumayan besar tepat di sebelah kanan saung qur’an, sebuah kandang sapi disebelah kirinya. Kami semua berfoto, dan berkeliling. aku pergi ke kandang sapi untuk sekedar berkenalan dengan lima sapi itu
, memberi makan dan berfoto-foto. Setelah itu kami kembali kesaung untuk mencicipi kue-kue yang disuguhkan mas Aryo sambil berbincang-bincang. Sungguh luar biasa yang namanya mas Aryo ini. Beliau adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Komunikasi Pembangunan. Beliau sudah satu tahun menetap di kampung qur’an ini untuk mengabdikan diri. sempat ada ustad lain yang membantu, tapi beliau mengundurkan diri. Mas Aryo sungguh luar biasa, mengamalkan ajaran islam sendirian dan menetap di merapi ini. Yang apa kalian tau? Jarak dari sini ke pasar saja 5km. Beliau mengabdi sendiri dan berbaur pada masyarakat sekitar. Apa kalian tau? Dulu misionaris sempat akan menguasai daerah sini, dengan sigap Daarul Qur’an mencegahnya. Sekitar 80 rumah qur’an semi permanen dibangun untuk para penduduk sini
, dan tiga saung qur’an untuk tempat menuntut ilmu, juga beberapa masjid dibangun untuk media penyebaran ajaran islam. Apa kalian tau? Sebelumnya masyarakat sini masih jauh dari ajaran islam. Konon sebelum kejadian gunung merapi meletus tahun 2010, masyarakat disini banyak yang meminum minuman keras, bermain judi, dan lain-lain. Banyak pula yang masih menganut paham animisme. bukan hanya sekedar berdakwah atau mengajarkan ajaran islam. Bantuan, dukungan, dan suport yang harus kita berikan. Entah  itu dengan materil, material, ilmu, semangat, dan perhatian. Mereka semua butuh kita, butuh uluran tangan kita, bukan sekedar perkataan atau dakwahan kita saja. Pendekatan secara fisik dan psikologispun nyatanya memang diharuskan. Bagaimana mas Aryo bersusah payah menarik para penduduk agar mau mengikuti ajaran islam, itu sangat sulit. Ikut berbaur dengan masyarakat, menjadi bagian dari masyarakat, mengikuti kegiatan masyarakata dalam hal positif seperti berkebun, berternak, dan lain sebagainya. Menarik hati anak-anak dengan cara bermain bersama, semua itu mas Aryo lakukan demi menarik hati mereka agar mau mengikuti ajaran islam dan meninggalkan kebiasaan buruk mereka yang sebelumnya. Mendengar cerita mas Aryo pada bulan puasa kemari, saat waktu sahur tiba terdengar suara gemuruh yang tak ada hentinya. Beberapa orang mungkin berpikir itu suara truk pengangkuit pasir tapi ternyata tidak. Itu sebuah suara dari perut gunung. Masyarakat berbondong-bondong memperingati masyarakat lainnya. Mas Aryo ikut keluar, semua penduduk berhamburan keluar. Mereka segera menepi ke pengungsian di bawah kaki gunung yang jauhnya kira-kira 5km. Dengan pencahayaan obor yang seadanya mereka semua berjalan melintasi lintasan yang terjal. Betapa tidak?  Turunan gunung yang terjal, pepohonan yang rindang, serta kegelapan malam yang kelam mereka taklukan bersama-sama untuk menyelamatkan diri. mereka takut terjadi hal yang serupa seperti kejadian merapi tahun-tahun yang lalu. Seorang Da’i yang tak masuk tv, begitulah sebutanku kepada mas Aryo. Begitu banyak pengorbanan yang beliau lakukan, terpaut usianya yang masih sangat muda, kira-kira diatas 20 tahun mungkin 25 tahun. Dengan usia yang begitu muda, beliau melakukan sesuatu yang sangat mulia dan luar biasa. Aku sirik melihatnya, aku sirik mendengar ceritanya, aku sirik memandang keteguhan sikapnya. Setelah lama berbincang, kami segera makan siang lalu sholat dzuhur bersama. Setelah itu aku, teh Novi dan teh Lexy diantar mas Aryo untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk yang jaraknya cukup dekat dengan saung qur’an. Rumah bu uin yang begitu sederhana namun hangat dibuatnya, karena penghuni rumah begitu ramah dan membuat kami nyaman. Kami beristirahat sejenak sampai ba’da ashar, aku langsung sholat.
Kami bergegas turun untuk pergi ke saung qur’an yang dibawah
. Bertemu adik-adik yang akan mengaji.Jalanan terjal berdebu, jembatan kayu rapuh, pepohonan lebat dan  jalan turunan menjadi trek perjalanan kami saat itu. disana adik-adik sudah menunggu untuk lekas setoran membaca iqra. Kira-kira anak TK sampai kelas 4 SD yang berada disana. Kamipun ikut membantu mas Aryo untuk mendampingi mereka. setelah mengaji, kami bermain bersama.

Setidaknya memberikan perkenalan yang mengesankan bagi mereka. oh ya, ada panggilan khusus dari mas Aryo untuk mereka. Jika mas Aryo memanggil “Santri....” mereka menjawab “Siap ustadz...’. jika mas Aryo panggil “Santri, santri, santri” mereka menjawab “Siap, siap, siap”. Sungguh menyenangkan melihat mereka semua begitu antusias mengaji. Aku jadi terharu, membayangkan dulu mas Aryo bersusah payah menjemput mereka agar mau menuntut ilmu di saung qur’an yang katanya dengan sedikit paksaan dan bujukan. Dan alhamdulillah sekarang mereka sudah sadar akan hal itu. bukan hanya anak kecil saja yang menuntut ilmu, para remaja, orang dewasa bahkan kakek nenek pun tak mau ketinggalan. Ada yang masih iqra 1, iqra 2 tapi mereka tak patah semangat untuk menuntut ilmu. Mengikuti ajaran islam dengan sungguh-sungguh. Banyak yang mas Aryo ajarkan kepada masyarakat merapi disana.Setelah itu, kami sholat magrib dan isya disana. Kami pulang ke saung qur’an atas sekitar jam 7.30 malam. Cukup menakutkan, dipegunungan yang hanya ada pencahayaan lampu seadanya kita berjalan membelah kegelapan malam. Sebuah pengorabanan kecil yang kami lakukan jauh dari pengorbanan mas Aryo bahkan lebih jauh dari pengorbanan Walisongo dan sangat amat jauh dari perjuangan nabi Muhammad. Setelah sampai saung qur’an, kita dijamu makan malam spesial. Ayam goreng, sayur, sambal, lalapan, dan lainnya. Dengan lahap kami semua menyantap makanan yang disuguhkan dengan ala lesehan. Masyarakat yang memasak itu semua untuk kami. Subhanalloh, begitu ramah dan baiknya kami diterima dikampung ini. Setelah menyantap hidangan mas Aryo mengantar para akhwat ke rumah bu Uin sedangkan para ikhwan bermalam disaung qur’an. Beruntunglah ada kamar tertutup didalam saung, jadi mereka tidak akan kedinginan.oleh hebusan angin pegunungan yang begitu dingin yang membuat kami semua mengeluarkan asap dari hidung dan mulut kami. Setelah sampai rumah bu Uin, kamipun beristirahat, karena esok hari kita akan traking ke gunung merapi, mendekati puncaknya. Wah luar biasa, selintas aku jadi ingat film 5cm. Heheh
            Keesokan harinya tepat pukul 5 pagi aku dibangunkan teh lexy, aku bergegas sholat. Setelah beberapa lama mas maulana membangunkan kita lewat telepon. Para ikhwan sudah menunggu kita diluar. Kami bergegas merapihkan diri dan berangkat mendaki gunung. Aku hanya berpakaian kaos, jaket tipis lalu dilapisi jaket tebal yang ku pinjam dari teh lexy, untunglah beliau membawa dua jaket jadi aku dapat meminjamnya dan dengan beralaskan kaos kaki dan sendal jepit.
Kami mendaki gunung, dengan nafas yang terengah-engah, dengan kaki yang terkadang lemah, dengan semangat yang tak terkalahkan. Kami berjalan terus menerus, walau lelah menyelimuti tapi semangat kami tak kunjung mati. Walau dingin yang luar biasa menyelimuti dengan semangat yang membara dapat menghangtkan kami. Kan kami taklukan gunung merapi ini dengan kaki kami yang berpijak dibumi pertiwi ini. Lebay sekali rasanya, tapi memang begitu adanya. Perjalanan kira-kira 1 jam lebih. Pemandangan yang indah mengusir rasa lelah kami. Tebing, jurang, pepohonan rindang kicauan burung, dan suasana alam yang mendukung membuat aku terhanyut dengan suasana disini. Diperjalanan sesekali kumelihat penduduk yang mebawa arit, entah untuk apa. Yang mencengangkan, aku melihat sosok nenek-nenek yang berjalan mendaki gunung. Sungguh luar biasa sekali, kami yang masih muda ini dengan berjalan tergopoh-gopoh. Beliau yang sudah lanjut usia ini begitu gigih dan semangat, sungguh luar biasa. Aku tak banyak bicara, karena aku tidak menguasai bahasa jawa. Jika menyapa penduduk disitu, aku hanya melemparkan senyuman dan tundukan kepala saja kurasa itu sudah cukup. Perjalanan kami terhenti sampai di pos pantau saja. Kami tidak melanjutkan ke puncak gunung merapi karena waktu kami tidak cukup banyak. Tapi sungguh pemandangan yang amat sangat luar biasa.


Bukit-bukit nan hijau, pegunungan yang berbaris rapih, angin berhembus dengan patuhnya, dan suasana alam yang sangat sejuk memanjakanku. Aku dan rombongan tak ingin kehilangan momen seperti ini. Aku yang sedari tadi merekam keindahan dari bawah sana, sejak sampai diatas ini, semuanya berfoto mengabadikan keindahan ciptaan Alloh. Aku lekas naik ke atas pos pemantau, diatas sana semua pemandangan tersapu oleh pandanganku. Sungguh luar biasa keagungan potrot indah yang Alloh ciptakan.
            Setelah beberapa lama menikmati panorama gunung merapi, kami bergegas turun kembali. Membersihkan diri dan sarapan pagi. Sekitar jam 12 siang, pihak Daarul Qur’an Jogja menjemput kami. Kami segera berpamitan dan berfoto untuk kenang-kenangan. Rasanya begitu berat hati meninggalkan kampung qur’an merapi, beritu banyak pelajaran berharga yang ku dapat dari sana. Sebuah pengorbanan besar, sebuah perbuatan yang amat sangat mulai, dan sebuah keteguhan dan keikhlasan hati yang begitu besar. Setelah itu kami bernagkat ke Daqu clinic. Perjalanan kira-kira 1 jam lebih, seperti biasa aku tertidur lelap. Disana kita berkenalan dan berbincang dengan para perawat disana. Berkeliling di sekitar clinic yang amat sangat bersih, namanya juga clinic. Ada ruang laboratorium,

ruang pasien wanita, pasien pria, ruang nifas, ruang bersalin, ruang tindakan, ruang terapi al-qur’an, dan lain sebagainya. Setelah berkeliling kami berkumpul di ruang terapi qur’a, berkenalan dengan ustadz fauzan. Kami disuruh bercerita tentang perjalanan kami selama dijogja, sepertinya beliau sedang membaca kepribadian kami. Ya, aku bercerita dengan gayaku sendiri. Setelah itu kami dapat kajian-kajian al qur’an dari beliau. Beberapa lama berbincang, kami segera pulang dan lekas menuju penginaman untuk menyimpan barang karena malam harinya kami akan pergi ke Gor Among Rogo. Setelah sampai dipenginapan kami langsung membersihkan diri, sholat, dan lekas ke TKP. Dengan berjalan kaki menikmati suasana Jogja yang hangat dan bersensasi lain. Akhirnya beberapa lama kemudian kami sampai di Acara Indonesia berjamaah
yang diadakan ustadz Yusuf Manshur. Beruntunglah, aku rombongan mendapat undangan, jadi diberi kehormatan duduk dipaling depan dan mendapatkan beberapa snack. Acara mulai pukul 8 malam sampai 10 malam. Ustadz menyampaikan tentang patungan usahanya. Mengajak masyarakat agar membeli Indonesia kembali sedikit demi sedikit. Menjadi inventaris, bukan menjadi buruh saja. Setelah itu aku, teh Novi, teh Lexy dan kang Maulana segera melangkahkan kaki kedepan Gor untuk mengedrop taxi untuk pergi ke Malioboro. Teman-teman yang lain tak menyusul, mereka pulang dan beristirahat dipenginapan. Kami turun di Bang Indonesia, berjalan disekitar Malioboro, melihat-lihat bangunan sekitar. Melihat taman pintar, benteng vredeburg, jalanan malioboro, jajanan pinggir jalan dan kumpulan anak remaja yang sedang menikmati dunia malam. Berjalan membelah dunia malam di malioboro
, menikmati kuliner khas Jogja dan berbelanja beberapa kaos. Setelah itu kami langsung segera pulang ke penginapan, agar besok pagi kami tidak kesiangan bangun untuk kembali ke kota Bandung. Sesampainya di penginapan, kami langsung membersihkan diri dan kemudian tidur. Keesokan harinya kami bergegas bangun dan bersiap ke terminal untuk lekas membeli tiket bis ke Bandung.
Rasanya belum puas berjalan-jalan, hanya segilintir sisi Jogja yang aku singgahi. Walau begitu, sepertinya begitu banyak cerita yang aku alami. Tunggu aku datang kembali, menjelajahi setiap sudut Jogja yang belum ku tapaki. Perjalanan yang amat sangat berarti menjadi memori dan sensasi tersendiri.   

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons