PUISI NESYA PUSPITA PUTRI
Datang menepis kerinduan yang dirasa, Melukiskan sejuta warna yang telah lama sirna, Menajamkan pena untuk mengukir cerita Dan bersiap merajut asa bersama.
CERPEN NESYA PUSPITA PUTRI
Aku berpijak pada bumi yang menyadarkanku akan kenyataan, bahwa kau adalah langit yang sulit ku gapai. Karena kau hanya sebuah ilusi, sebuah dongeng pengantar tidur yang selalu menemaniku, yang selalu berada dalam imajinasiku.
NESYA PUSPITA PUTRI
Gadis kecil itu duduk sambil menatap kearah lapangan sekolahnya dengan mata biji almondnya yang berbinar. Gadis berumur sepuluh tahun ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas lima.
Showing posts with label Curhatan. Show all posts
Showing posts with label Curhatan. Show all posts
Sunday, 24 May 2015
Yang Ku Butuhkan Tuntunanmu, Bukan Tuntutanmu!
Malam minggu yang kelabu tapi membuatku selalu
merindu. Malam minggu yang syahdu, ku manfaatkan menulis kata-kata ini tanpa
lantunan lagu. Karena sulit bagiku menuangkan imajinasiku dalam suara suasana
yang gaduh.
Malam ini aku bertemu denganmu. Jujur, aku sangat
merindukanmu. Tapi bukan merindukan ragamu, tapi merindukan sosokmu yang dulu.
kau tau berapa lama cinta kita berpadu? Berbulan bulan lamanya hingga kita
niatkan tuk saling menyematkan cincin dan ikatan suci atas nama Illahi. Sebelumnya
maafkan aku, tapi ini juga bukan salahku dan pun bukan salahmu. Hati ini
bagaikan kurva dengan titik tertentu yang tak beraturan naik dan turun,begitu
juga hatiku.Rasa ini bagai goresan garis lurus yang melintang diantara titik
titik cintaku padamu, terkadang naik dan tak jarang pun turun. Ini hal biasa
dalam sebuah hubungan dua manusia. Garis kurvaku yang dinamis tak menentu
kemana arah hati kan membawanya, kini ia jatuh drastis pada titik yang paling
rendah. Sekali lagi ku tegaskan, ini bukan salah mu atau pun juga salah ku.
Garis kurva ku tetap pada titik jenuh itu, statis tanpa pergerakan menuju
perbaikan. Padahal hubungan ini sudah kita rencanakan sampai pelaminan. Tapi entah,
aku pun kebingungan. Aku merasa kau tak seperti dulu. Entah ini hanya perasaan
ku atau memang kenyataannya begitu. Kau dekat, bahkan sangat dekat. Tapi entah
mengapa rasanya sulit menggapai hatimu dengan rengkuhan hatiku yang semakin
hari semakin menjauh. Boleh kah aku mencurahkan apa yang terselubung dalam
kata-kata ku sepanjang paragraf tadi? Sebelumnya maafkan aku bila aku lancang
mengatakan hal ini.
Sayang..... aku merasa kehilangan hatimu dalam
ragamu. Hatimu yang dulu selalu memujiku, hatimu yang dulu selalu
mengutamakanku, hatimu yang selalu dekat dengan hatiku, dan bahkan hatimu yang
menerima segala kekuranganku tanpa menuntut ini dan itu. Tapi kini.... aku tak
menemukan hal itu. Bukan aku tak menemukan, tapi aku tak merasakan. Semuanya
masih sama, hanya saja saat ini secara tidak langsung kau memaksaku menjadi apa
yang kau mau. Aku tau, itu untuk kebaikan ku sekarang dan masa yang akan
datang. Tapi mengertilah, ketika cinta terlalu banyak tuntutan ini dan itu, kau
tidak akan pernah menemukan kepuasan.
Sayang.... dengarkan aku. Walau aku tau, kau selalu
mendengarkanku dengan seksama. Tapi sekarang dengarkan aku sebagai wanita yang
hendak menuju dewasa. Jangan menuntutku ini dan itu. walau aku tau kau ingin
yang terbaik untuk ku dan untukmu di kehidupan kita yang baru. Tapi dengarlah,
setiap apa yang kau inginkan adalah tekanan bagiku. Usia kita yang terlampau
cukup jauh membuatku belajar begitu keras untuk mengejar semua yang tertinggal
dari mu. Aku diam bukan berarti aku tak bertindak. Aku belajar pada kehidupan.
Tapi aku mohon, jangan kau tuntut aku sekeras mungkin. Aku masih belajar, PR ku
masih terlalu banyak untuk ku selesaikan. Menjadi wanita sholehah, cantik,
anggun, menawan, cerdas dan keibuan siapa yang tak ingin?
Percayalah, aku pun sedang memperjuangkan diri
menjadi wanita yang sempurna dimataku, dimata mu bahkan dihadapan-Nya. Jangan
tuntut aku dengan semua keinginanmu. Semakin hari aku semakin membunuh waktu
ku, menghitung mundur sampai hari dimana kau mengkhitbahku. Hari demi hari aku
belajar menjadi wanita seperti itu. jangan paksakan aku, dan jangan menuntut
aku. Yang aku butuhkan adalah bimbingan darimu. Yang aku inginkan adalah
tuntunan dari mu. Ketika kelak kau menjadi imamku, percayalah semua hal yang
aku lakukan akan berdampak baik padaku dan dirimu.
Disini aku belajar sendiri, belajar memahamimu,
belajar mengenalmu, belajar menjadi apa yang kau mau. Tapi tidak semudah itu,
sayang. Ketika keinginan keinginanmu menjadi obsesi bagimu itu hal yang tidak
baik. semoga saja kau tak seperti itu. dampingi aku untuk melewati proses itu.
tuntun aku menggapai puncak itu. Jangan pernah bosan dan menyerah. Aku disini
siap mendaki tangga-tangga itu asal kau selalu menuntunku dan kita jalan
bersama berdampingan. Bukan aku yang berjalan sendirian di belakang dan kau
meneriaki ku dari depan.
Aku bercermin, aku bukanlah wanita yang sempurna. Entah
itu dalam hal fisik, sifat, kecerdasan, dan hal lainnya. Tapi terimalah aku apa
adanya. Lalu kita melangkah bersama dan bergandengan untuk merubah menjadi yang
yang lebih biak. Kau menuntunku dan mengajariku segalanya. Bahkan kita bisa
belajar bersama dalam sekolah kehidupan ini. bukan malah “Terima kamu lebih
dari adanya” (kata-kata mu dulu yang masih terngiang di telinga dan membekas
dihatiku). Aku tau kau ingin yang terbaik untukmu, tapi sadarlah ketika aku tak
sesempurna itu dan tak secepat itu dalam berproses menjadi apa yang kamu mau.
Sayang.... andai lidah dan bibirku mampu mengatakan
hal ini dihadapanmu. Mungkin tulisan ini tak kan ku buat. Lidahku terlalu kelu
dan kaku melontarkan segalanya padamu. Tapi percayalah, cinta ini masih setia
untukmu. Mungkin aku hanya terlalu merasa sendiri pada proses kemandirian dan
kedewasaan tanpa tuntunan darimu. Ingatlah sayang, yang ku butuhkan adalah
tuntunan bukan tuntutan J
Friday, 15 May 2015
Assalamu’alaikum calon imam ku...
Di pengujung tahun
2015 ini kan kau sematkan cincin dijari manisku. Kau ikat aku dalam sebuah
hubungan yang menjadi pijakan pertama kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Dua keluarga
yang akan menjadi satu kesatuan keluarga besar, aku dan kamu yang menjadi
perantara semua itu. yakin kah kau dengan pilihan mu? Memilih aku yang akan
menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu kelak? Menjalin cinta kasih di dunia
hingga ke surga? Terlalu banyak pertanyaan bila semua kata tersurat begitu
saja.
Statusku yang masih
menjadi mahasiswa disalah satu universitas menjadi pertimbangan yang besar. Semester
6 yang menjadi titik kejenuhan ku dalam pendidikan ini. Tapi kehadiranmu dan
niat tulusmu mempersuntuingku menjadi kekuatan besar yang mengharuskan ku
segera menyelesaikan studiku dan segera mengganti satus menjadi sarjana dan
istri mu. Dengan sabar kau menggu ku, dengan ikhlas kau membantuku dalam
perjalanan yang berliku. Usia yang baru menginjak 20 tahun ini cukup sulit
bagiku. Banyak tanggung jawaab yang aku ku emban, mungkin itu proses
pendewasaan. Tapi mengerrti lah, jangan paksakan aku mengejar sikap dan pikiran
dewasa mu yang jauh dari usia ku. Biarkan aku bermain dan bebas berkarya dengan
komunitas dan teman-teman ku sebelum aku mengabdi padamu wahai calon suamiku. Aku
pun tak pernah lelah untuk belajar mendalami agama dan ilmu untuk berumah
tangga. Menjelajahi setiab website yang tersedia artikel-artikel yang membahas
segalanya tentang pranikah dan pasca nikah. Berguru dari satu ustadz ke ustadz
lain dan mengikuti sekolah pranikah demi ilmu yang kelak ku dapat. Mengertilah,
kesibukanku saat ini adalah dimana untuk memuaskan hasrat ku yang menggebu. Masa
muda masanya berkarya. Agar kelak aku menjadi orang yang berjaya. Bukan hanya
untuk diriku, tapi juga kamu dan keluarga.
Mengertilah, sikap kekanak-kanakan ku yang mungkin
membuatmu kesal. “Tidak ada yang ideal selama di dunia. Ketika kita berprinsip
saling menerima kekurangan masing-masing, proses perbaikan akan mudah
dijalankan. Menerima
kekurangan tentu saja bukan untuk didiamkan, tapi rela menerima untuk kelak
sama-sama saling memperbaiki.” Kutipan yang kuambil dari seorang hamba Allah. Aku mencintai segala
kekuranganmu,cintai juga aku dengan kekuranganku. Jangan tuntut aku menjadi apa
yang kau mau. Tapi cintai aku agar hatiku luluh dan menjadi istri yang patuh
bagimu. Percayalah, kau pria yang luar biasa untukku. Kelembutan sikapmu,
santunnya tutur katamu, dan sikap humorismu mampu mencuri hatiku. Bahkan kau
mampu mengetahui pribadiku jauh dari apa yang ku tahu. Terimakasih untukmu yang tak pernah
lelah mendampingiku untuk menjadi sosok wanita yang dewasa, anggun dan
bersahaja.
Posted in: CurhatanSaturday, 15 November 2014
SOSOK ITU...
Pada suatu malam yang dingin yang munusuk tulang
lengkap dengan air langit yang menetes seakan memberi kehidupan. Sesosok ibu
paruh baya dengan kedua anaknya yang sekiranya berusia 4-6 tahun dan yang
berusia dibawah satu tahun. sebuah memandangan yang tidak jarang tergambarkan
dalam sebuah bayangan bahkah realita kehidupan yang kejam. Sang ibu dengan
pakaian putih lusuh berjalan membelah perempatan jalan kota Bandung.
Dengan
seksama ku perhatikan, lengan kanannya yang terlihat kuat itu mendorong sebuah
gerobak kayu usang yang ukurannya lumayah besar yang berisi tumpukan barang-barang
bekas tertutup beberapa tumpukan karung. Menambah kesan kuatnya sang ibu itu,
seorang anak yang duduk disela-sela tumpukan barang bekas itu dengan tatapan
kosong tak bermakna. Sedang tangan kiri sang ibu menggenggam payung yang
berwarna hijau tua terlihat melindungi diri dan seorang balita digendongnya
dengan sebuah kain. Sebuah payung yang sangat berarti baginya untuk melindungi
diri dan buah hatinya dari tetesan air hujan yang menambah dingin suasana
malam.
Sosok yang tersamarkan ribuan tetes air hujan lekat-lekat aku tajamkan
penglihatan. Lengan dan kaki itu terlihat kuat menopang apa yang ia bawa. Mungkin
sosok itu lebih kuat, ketika harus menopang diri untuk tanggung jawab pada
kedua buah hatinya.kaki itu melangkah ditengah-tengah lampu merah, puluhan
mungkin bahkan ratusan lampu kendaraan menyoroti setiap langkahnya. Dengan cahaya
lampu kota yang setidaknya mampu menyinarinya sosok itu berjalan bak artis yang
sedang memainkan peran diatas panggung tanpa ragu untuk melenggak dijalanan.
Langkahnya semakin cepat, hingga kemudian bayangannya hilang. Dan setiap jejaknyapun hilang oleh setiap
kendaraan yang satu persatu melewati setiap tapaknya.
ATAS NAMA CINTA? 2
Permasalahan dalam hubungan asmara adalah wajar. Dimana
ada pihak yang tersakiti, disisi lain ada pihak yang bahagia satu sama lain. Apakah
rasa ingin memiliki adalah cinta? Ya, karena ketika mencintai sesuatu seperti
hal yang lumrah kita memiliki hal yang kita cintai itu. tapi bila sesuatu itu
tidak bisa kita dapatkan, apakah itu akan berujung pada cinta yang terobsesi? Yang
dengannya segala macam dihalalkannya untuk mendapatkan sesuatu itu? itu salah
besar. Ketika kita terobsesi memiliki tanpa tahu rasanya memperjuangkan, kita
akan merasa sia-sia telah memilikinya. Tapi jika kita ikhlas menerima kenyataan
atas apa yang tidak bisa kita miliki, kita telah bersyukur karena sempat
mencintainya dalam proses perjuangan tersebut.
Mungkin bagi beberapa orang pernah mengalaminya. Cinta
yang mungkin awalnya tidak berniat ingin memiliki, tapi berniat hanya
membahagiakan dan hanya mencintai semua itu akan berakhir pada cinta yang
terobsesi. Ketika cinta itu semakin lama semakin buta. Ketika cinta itu
menggelapkan hati, mata dan pikiran kita. Berarti kita telah men-Tuhankan cinta
yang tidak sepantasnya kita jaga. Seperti orang yang terlihat gila tanpa cinta
dalam dirinya.
Wednesday, 12 November 2014
ATAS NAMA CINTA? 1
Cinta,
kata yang tidak pernah habis dimakan jaman. Cinta adalah perasaan yang begitu
kuat dan luar biasa sampai bisa menguasai pikiran dan hati kita. Ketika cinta itu menembus celah-celah hati
setiap insan mampukah dia menjaga kefitrahan cinta itu sendiri? Dan mampu kah
setiap insan mencintai seseorang dengan perantara Tuhan-nya? Dan bagaimana
cinta sejati yang tulus dan murni tanpa campuran maksiat dan setan didalamnya?
Begitu banyak problematika yang ada pada cinta itu sendiri. Ketika kita mampu
menjawabnya bahkan menapakinya, ketika itu pula kita bisa menjaga cinta dan
kefitrahannya.
Para remaja yang saling mencintai dan menikmati
dunia dengan segala cinta yang ia miliki pada saat itu lah ketika kehormatan
wanita dan ketulusan juga tanggung jawab pria dipertaruhkan. Ketika cinta
membisikanmu hal-hal yang indah saat bersamanya, dibalik indahnya bisikan cinta
yang membuatmu terbang dengan sayapnya kita tidak akan pernah peduli walau
terdapat pedang dibalik sayapnya. Pedang yang siap menikam dari belakang bahkan
depanmu. Pedang yang akan siap menerjang
dan membunuhmu dengan perlahan kau terlelap dengan bentuknya dan
bisikannya yang indah. Cinta tidak akan pernah salah bersemayam pada hati
siapapun, tapi cinta akan berujung dosa dan sengsara bagi dia yang tidak tahu
cara mencintai dengan perantara Tuhan-nya.
Friday, 31 October 2014
KEINDAHAN TEBING KERATON
Keindahan Tebing Keraton yang kata orang memiliki panorama
yang menakjubkan. Ya, memang benar. Tetapi tidak mudah menempuh jalan ke tebing
tersebut, anda harus mempersiapkan segalanya dari mulai jaket untuk alat
pelindung dari udara yang dingin, bensin yang penuh karen akan sulit mencari
pedagang bensin eceran dan kondisi kendaraan yang baik karena tanjakan, jalanan
yang terjal juga berkelok-kelok akan anda lewati. Dan hanya dengan harga
Rp.11.000 anda bisa menikmati alam yang sedemikian megahnya.
Tebing ini terletak di Kampung Cihagerem Puncak,
Desa Ciburial, Dago, Bandung. Tebing batu yang menjorok kedepan ini memiliki
panorama yang akan memanjakan mata kalian. Tebing ini dinamakan Tebing Keraton
karena keindahan alamnya. Tebing Keraton artinya Kemegahan Alam. Disarankan
ketika anda berniat pergi kesana ketika sunrise. Pada saat itu, kabut yang
menyelimuti bukit-bukit seakan anda berdiri diatas awan, dan pancaran sinar
matahari yang masuk kecelah-celah awan dengan warna keemasan menyinari hamparan
hutan pinus dan hamparan sawah yang tepat berada dibawahnya.
Bawalah kamera untuk mengabadikan diri anda dengan
alam sekitar, karena terlalu menakjubkan jika keindahan alam yang luar biasa
itu dilewatkan. Jika anda adalaj sosok yang berani, cobalah untuk berfoto diujung
tebing dan turun kebawah tebing untuk mendapatkan view yang lebik menarik. Itu
akan membuat temen-teman anda berdecak kagum melihat keberanian anda. Tapi,
tetaplah harus hati-hati dan waspada. Jangan sampai bercanda atau lupa diri
karena asyiki melihat hasil goresan tangan Tuhan, malah-malah anda jatuh dan
sampai pergi kembali pada Tuhan.
Pengamanan yang belum maksimal menuntut anda untuk
hati-hati dan waspada. Keindahan alam yang seperti ini harus kita jaga bersama
dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencorat-coret objek yang ada,
dan tidak sembarangan mencabuti tanaman-tanaman yang ada.
Monday, 24 March 2014
Malam Biru
Kebetulan
adalah nama lain dari takdir Tuhan yang mengejutkan. Dan kebetulan yang indah
itu ketika Tuhan mempertemukan kita dan mendekatkan kita satu sama lain dengan
cara Tuhan yang mengejutkan. Aku mengenalmu sudah hampir dua tahun, tapi aku
mengenalmu baru satu tahun belakangan ini. Sebuah kebetulan dari hasil tangan Tuhan
yang memberi kesempatanku untuk
mengenalmu lebih dekat. Biarpun pada awalnya banyak kesalah pahaman, tapi pada akhirnya kesalah pahaman
itu lah yang membuatku mengenalmu jauh lebih dekat dari sebelumnya. Mungkin
pada awalnya kita tak saling bicara bahkan tertawa bersama, tapi semua itu
berubah. Aku dan kamu terlalu banyak bicara dan tertawa bersama hal itu memulai
segalanya. Dimana aku terlalu ceroboh untuk membiarkanmu bertamu di hatiku. Aku
tak dapat mengusirmu, daya tarikmu membuatku silau akan sebuah kenyataan bahwa
kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat. Mulutku bisa berkata iya, tapi
hatiku jelas menolaknya secaara terang-terangan. Sebuah hadiah-hadiah sederhana
yang biasa yang kau berikan itu dimataku adalah sebuah hadiah istimewa yang
luar biasa. Ku simpan rapih segala yang telah kau berikan dari barang-barang
sampai kenangan yang tak pernah terlupakan. Sadarkah kau bahwa sampai sekarang
ini aku masih menunggumu?
Dan
malam itu tanggal 22 Maret 2014. Kau memberikanku setangkai bunga mawar. Biar dengan
bahasa yang berbelit yang sulit ku pahami, namun inilah kesalah pahaman yang
indah yang telah ku deskripsikan bahwa memang kau memiliki perasaan yang sama
denganku dari satu tahun yang lalu. Tapi aku masih menjaga hatiku agar tak lagi
terluka karena mengharapkanmu lebih. Aku belajar mengendalikan hati dan
perasaanku. Tapi jika memang tak mampu, itu bukan kesalahanku karena
mengagumimu itu bukan sebuah kesalahan melainkan sebuah kebenaran dan anugerah
yang Tuhan berikan.
Posted in: CurhatanSunday, 3 November 2013
Merindu
merindukan sosok yang selalu membuatku tersenyum saat melihat hp ku. merindukan sosok penyemangat, merindukan sosok yang dapat membuatku menjadi lebih anggun dan dewasa, merindukan sosok dia yang selalu memperhatikanku. sebuah kisah cinta klasik yang tak ada habisnya untuk dibicarakan. hanya saja waktunya yang berbeda. sekejap diri ini terbuai dengan angan-angan masa depan yang indah denganmu. sosok yang mampu membuatku tumbuh menjadi jiwa yang berani bermimpi dan bercita-cita tinggi. berani mencoba menjadi sesuatu yang baru dan baik bagiku. sosok yang mengubah pola pikirku terhadap lelaki yang pernah membuatku kecewa dan berkhianat padaku. sosok yang mampu membuatku menghormatimu sebagai imamku. sosok yang mampu membuatku tertunduk malu saat beradu pandang denganmu. sosok yang berani aku banggakan kepada semua orang diluar sana. sosok yang selalu membuatku bercermin atas tingkah yang ku perbuat. sosok membuatku sempurna dan utuh dihidupku. sosok yang selalu mengingatkanku kepada penciptamu yang dengan sempurnanya menciptakanmu. walau tak ada makhluk yang sempurna, tapi dimataku kau begitu sempurna. kesempurnaan yang kau miliki mungkin bisa menutupi kekuranganku. pasti pun kau memiliki kekurangan, tapi kau menutupinya dengan semua kelebihanmu. aku tak ingin mencintaimu karena kekuranganmu, karena aku ingin mencintai kelebihanmu. akupun berharap ingin kau mencintai kelebihanku. biarkan kekurangan kita-kita tutupi dengan kelebihan kita. dan kita saling menutupinya. karena aku ingin tumbuh bersamamu. menjadi wanita yang anggun untukmu, menjadi wanita idaman untukmu, menjadi wanita yang layak mencintaimu. sepertinya tak akan habis kata ku tullis tentangmu. aku tak mau namamu hanya tersirat dalam hatiku, tapi juga tersirat dalam do'aku. entah siapa jodohku akupun tak tahu. tapi aku ingin menjadikanmu jodohku dengan cara menghormatimu dan mencintaimu.
Posted in: CurhatanMonday, 2 September 2013
Menjelajahi Pasar Malam
malam kemarin (1 September 2013) adalah malam penutupan hari liburanku selama tiga bulan. menjelajahi pasar malam di daerah cileunya, tepatnya dipasar cileunya. bersama hafidz dan idah (teman sekelasku).. aku berangkat menuju pasar malam sekitar jam 7 malam dari rumah bibiku yang terletak di tagog, cibiru, Bandung. awalnya biasa-biasa saja, menikmati suasana pasar malam, berkeliling memandangi hamparan pedagang dan gardu-gardu tiket permainan. ada pedagang sandal, baju, mainan anak-anak, makanan, aksesoris dan pedagang lainnya yang berbaris rapi melingkupi pasar itu. ada beberapa permainan juga seperti kincir, kora-kora (perahu terbang), ombak banyu, komedi putar, dan beberapa permainan lainnya yang tidak aku ketahui namanya. aku dan idah berniat mengantar hafidz membeli sandal, tapi ia tak kunjung membelinya. entah tak ada yang cocok,atau entah apa lah. setelah itu mata kami tertuju pada sebuah permainan bianglala (kincir).
"nes, naik itu aja yu" ujar hafidz sambil menunjukkan permainan itu.
"hayu-hayu. kan ada hafidz sebagai bapak kita yang mau bayarin. hahahh" aku menggoda hafidz sambil menepuk pundaknya.
"Dih, ngerakeun wae" hafidz melangkah dengan raut wajah yang membingungkan aku dan idah tertawa melihat tingkahnya yang konyol itu. kamipun berjalan menuju gardu penjual tiket. setelah membeli tket dengan harga Rp.5000, tiket berwarna pink pun aku genggam erat seakan barang berharga yang tak mau aku kehilangannya. lalu aku dan teman-teman mengantri untuk mendapatkan giliran naik permainan itu. bukan hanya kami saja yang mengantri, ada juga bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, juga para anak muda yang tak ingin ketinggalan sensasi menaiki kincir ini. selangkah demi selangkah kaki kami maju untuk mendapatkan giliran daik. aku, idah dan hafidz mendapatnya satu kerangkeng atau ruang atau entah apalah itu namanya, yang berwarna pink. biar kata pasar malam, biar kata murahan, atau bahkan disebut kampungan, tapi kebahagiaan yang kami dapatkan. bukan masalah 'masa kecil kurang bahagia' tapi memang menyenangkan rasanya menaiki permainam semacam itu. merasakan sensasinya, merasakan seperti kembali seperti anak-anak yang sedang bermain bersama, merasakan seperti tak ada beban apapun. tawa, canda kami lepas di malam itu. kincirpur berputar mengikuti jalurnya, biar aga seram karena bunyi besi yang 'kretek-kretek' tapi kami tetap bisa tertawa dan membuat leliucon garing segaring-garingnya. sesaat kemudian dari atas kincir aku melihat iml (sepupuku) dan yoga (teman imel) berjalan ke arah kincir.
"imel...." refleks aku berteriak dari titik teratas kincir, berharap imel mendengarku dan menoleh kearahkku.
"nesya, ngerakeun wae. teu kenal ah teu kenal. " sepertinya hafidz tutup muka melihat tingkahlaku ku yang seperti ini. hehehe
"wah, wah parah. hehehe" aku dan idah han ya tertawa.
setelah beberapa putaranpenuh, terhentilan kincir itu. kami turun lalu menghampiri imel dan temannya itu. setelah itu kami langsung pergi ke permainan kora-kora (perahu terbang).
"naik itu yuk" ucapku dengan girang menunjuk kora-kora, seperti bocah yang pertama kali melihat permainan itu dan ingin menaikinya.
"asik dibayarin..." celetuk idah dan hafidz yang membuatku manyun.
"yea... yoga yang bayarin" diceplosin deh ngomong gitu ke yoga. hahahah
hafidz mengeluarkan uang 20.00 ribuan dan memberikannya padaku bersamaan dengan perginya yoga ke gardu pembelian tiket. beberapa kemudian...
"ini tiketnya ca" imel meberikan 5 tiket kuning padaku
'nih yoga uangnya. jadi berapaeun?" aku memberikan uang pada yoga
"oh gausah ga usah." sanggah yoga mengangkat tangan kanannya.
"beneran nih? sungguh? ga nyesel?' au meyakinkan yoga, berharap ia benar-benar memberikan tiket itu pada kami secara cuma-cuma.
"ih nesya ngerakeun, masa gw dibayarin cowok" celetuk hafidz dengan llirikan matasinis
"ih, da ga mau dibayar dianya" aku memberikan uang 20.000 ribuan tadi pada hafidz
"makasih bro, jadi ngerepotin" ucap hafidz, sepertinya dengan berjuta kali menahan gengsinya. hihihih
'iya, makasih ya" susul idah
"hatur sembah nuwun....." ucapku sambil sedikit membungkuk. LEBAY. hahahah
imel hanya tersenyum malu dibuatku. setelah itu kami mengantri, tak lama kamipun naik keatas perahu kuning bercorang coklat. imel dan yoga duduk disisi kiri paling atas, sedangkan aku, idah dah hafidz duduk didepannya. awal ayunan perahu itu biasa saja.
"yah... cuma segini' sombongnya hafidz
"iya nih. muka dingin, muka dingin ya. jaim" ucapku
''hahahah mustahil lu bisa muka dingin. diem sedetik aja ga mungkin banget.'' ledek hafidz
"muka dingin kaya ambang (teman sekelasku). eh gw bisa lebih dingin'' hafidz menunjukkan wajah dinginnya, tapi menurutku bungan wajah dingin. tapi wajah yang sedang menahan ingin buang air. hahahah
"fidz, tuh muka dingin atau mau buang air? hahaha" aku dan idah tertawa
lama kelamaan, ayunan perahu semakin luar biasa jauh dan kencangnya.
'' aaaa..... hahahahah" aku berteriak sambil tertawa terbahakbahak. merasakan sensasi menegankan, menggelitik, gemetaran, dan campur aduk deh. tangan kananku menggenggam tangan idah, tangan kiriku menggenggam pegangan besi didepanku. rasanya jantung akan copot, bergetar kakiku dengan hebatnya, berteriak hingga mengeluarkan air mata. sungguh sensasi yang menebarkan sekali. ingin sekali menyudahkan permainan ini, tapi sang pengendali mesin rupanya tak segan menambah kecepatan yang semakin luar biasa. rasanya terhempas kesana sini mengikuti irama ayunan. setelah sekitar 5 menit kami terpontang panting, permainan akhirnya disudahi. aku turun dengan kaki yang masih bergetar. yang lainpun turun, rasanya iingin tertawa terbahak bahak melihat wajah teman-temanku yang beraneka ragam dan ekspresi. hahaha
kami turun dan menenangkan diri. imel dan yoga memisahkan diri. aku, hafidz dan idah berjalan-jalan menelusuri lorong-lorong sempit dipasar malam. beberapa saat aku melihat imel dan yoga menaiki ombak banyu, jauh dari dalam hati ingin rasanya menaiki permainan itu. tapi tubuh yang masih gemetar ini hendak menolak permintaan hatiku. kami langsung saj pergi dan melihat-lihat lagi. setelah itu aku pamitan pulang kepada imel. aku, idah dan hafidz pulang menggunakan angkot (supir pribadi). imel biar diantar yoga menggunanakan motor. sebelum pulang, hafidz membeli kembang gula berwarna pink terlebih dahulu, barulah kami menaiki angkot yang sudah menunggu kami dengan setia disebrang jalan. diangkot kami bercengkrama bersama sambil menikmati kembang gula yang dibeli.
"haduh, urang mual'' dengan mimik wajah yang meyakinkan aku dan idah bahwa iya sepertinya memang benar-benar mual.
"hahahah dih cemen" guyon aku padanya
"wah sigana bail-balik dikerok da. hahaha" idah tertawa melihat hafidz yang seperti itu.
pengalaman dipasar malam dengan teman-teman yang sangat menyenangkan. menyadarkan betapa kebahagiaan itu sederhana dibuatnya. tertawa dan bercanda bersama menghangatkan suasana yang ada. sebuah pertemanan yang amat sangat sederhana namun spesial dibuatnya. biar ini jadi memoriku tersendiri yang kusimpan dalam hati dan juga blog ku. heheheh
Saturday, 31 August 2013
MY ADVENTURE IN JOGJA
Daerah Istimewa
Yogyakarta, kota yang sangat ingin ku kunjungi sedari dulu. Namanya saja daerah
istimewa, jelas banyak keistimewaan yang terhampar disetiap sudut kota
tersebut. Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, aku diijinkan untuk
menginjakkan kaki di kota yang penuh dengan budaya dan wisata itu. Lewat sebuah
Yayasan Daarul Qur’an milik ust. Yusuf Manshur, aku akan menapaki kakiku ke
kota Yogyakarta (penuh semangat). Kalian pasti bertanya-tanya dalam benak
kalian, apa hubunganku dengan yayasan tersebut? sekilas cerita yang penuh
makna, beberapa waktu lalu tepatnya di
bulan ramadhan aku menjadi salah satu relawan di yayasan tersebut. Menjaga
gerai sedekah disuatu tempat di kota Bandung. Pengalaman yang sangat menyenangkan,
penuh tantangan dan pengorbanan. Bertemu banyak teman baru yang memiliki
kemampuan, pengalaman dan kepribadiannya masing-masing. Sungguh diluar dugaan,
aku mendapatkan penghargaan sebagai relawan teraktif, staf kantor dan
teman-temanku menyebutnya dengan “relawan tanpa urat malu”. Karena digerai aku
sangat aktif dan cekatan menarik donatur untuk mensedekahkan, menzakatkan dan
mewakafkan sebagian hartanya pada yayasan kami yang akan kami salurkan yang
sebagian besar pada penghafal al-qur’an. Aku mendapatkan piagam, bonus buku
ust. Yusuf Manshur, dan beberapa waktu kemudian aku dihubungi orang kantor
untuk mengikuti program acara ke Jogja bersama empat staf kantor yaitu kang
Maulana, kang Haryadi, kang Ridwan dan teh Alexandria atau yang biasa aku
panggil teh Lexi. Dan juga tiga teman relawanku seperti teh Novia, kang Ade dan
kang Eko. Pemberangkatan ke Jogja dijadwalkan tanggal 26 agustus 2013. Satu
hari sebelum hari pemberangkatan, aku mempersiapkan segalanya untuk ke Jogja
dari beberapa potongan baju, celana, sandal, dan barang lainnya yang memang aku
butuhkan disana. Merapihkannya pada sebuah ransel hitam besar, dan tambahan tas
selempang kecil untuk menaruh dompet dan handponeku agar mempermudah jika ada
panggilan masuk atau transaksi lainnya.. Begitu banyak bayang-bayang sisi Jogja
yang aku idamkan.
Aku
segera kumpul di Daarul Qur’an jam 4 sore, yang bertempat di jalan P.U
pengairan atau belakang R.S Al-Islam. Menunggu semuanya kumpul dan
mempersiapkan segalanya. Sungguh tak sabar rasanya ingin segera sampai.
Menikmati suasana Jogja yang eksotis, memandang panorama indah disetiap pojokan
kota Jogja yang penuh dengan budaya dan wisata. Setelah pukul 5 sore, kami
bergegas pergi ke terminal cibiru. Dengan diantar mobil xenia putih yang
dikendalikan oleh kang Dede (staf kantor), mobil melaju dengan cepat.
Sesampainya di terminal, suara adzan berkumandang, kami langsung bergegas
melangkah kerumah Alloh untuk sholat magrib berjamaah.. Hampir satu jam
menunggu, bis Budiman jurusan Bandung-Jogjakarta pun datang. Kami segera
meletakkan barang-barang di bagasi belakang,aku, teh Novi, teh Lexy dan kang
Ridwan duduk dikursi paling belakang sedangkan kang Maulana dan kang Haryadi
duduk didepanku, kang Ade duduk didepan kang Maulana. Kang Eko berangkat ke
jogja dari Purwodadi. Sambil menunggu sang sopir menancapkan gasnya kami
bercengkrama bersama bercerita tentang program kami di Jogja. Duduk dikursi
bernuansa biru bercorak penuh warna. Setelah beberapa lama kemudian bispun
berjalan dengan kecepatan yang tak biasa. Seperti menaiki rollercoaster, dengan
kecepatan penuh sang sopir mengendalikan bisnya seakan melayang-layang
dibuatnya. Penumpang bis yang tidak terlalu penuh membuat ruang begitu
melegakan, tak ada acara berhimpitan atau apapun itu. Beberapa teman-temanku
tertidur lelap disuasana bis yang luar biasa cepat dan ditambah jalanan yang
tidak semulus jalan tol. Aku terdiam, melihat panorama indah dimalam hari lewat
etalase jendela bis. Begitu sunyi dan begitu damai suasana yang terjadi saat
itu. Tak terasa perjalanan sudah sampai daerah Ciamis jam 12 malam, kondektur
bis membangunkan penumpang untuk segera turun dan menikmati hidangan makan
malam disalah satu rumah makan. Rombongan kamipun ikut turun dan segera
mengantri. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk aku lekas mengambil piring, ku
isi dengan nasi putih, ati ampela, dan sayur sop. Akupun lekas menempatkan diri
dimeja makan yang masih kosong, yang lainnya pun mengikuti. Ku llihat
sekelilingku, para penumpang begitu lahap menyantap hidangannya dengan wajah
yang mungkin masih setengah sadar. Rumah makan yang cukup luas berdinding cream
dan dipadu padankan coklat muda dan dengan hamparan makanan prasmananya.
Usai makan, semua
penumpang kembali kedalam bis, dan duduk ditempatnya masing-masing, begitupun
aku dan rombongan. Rasanya kenyang sekali, hawa kantukpun semakin
melanda kelopak mataku. akupun tertidur tak sadarkan diri, inilah efek karena
sedrai dari mataku terjaga memandangi pemandangan malam diluar sana. Dug.
Tiba-tiba suara keras terdengar, spontan akupun terbangun. Ku melihat-lihat pada
kedaan sekitarku, yang lainpun ikut terbangun saking kerasnya suara tersebut.
saat ku menoleh kearah kanan tepat tempat duduk teh novi, kaca jendela yang
besar dan tebal itu pecah. Kepingan-kepingan kaca itu berserakan, sampai
berhamburan kekursiku. Dengan kesadaran yang belum seutuhnya full, aku dan yang
lain ditegaskan untuk pindah tempat duduk. Tak diduga serpihan kaca sampai
terhempas kedalam sepatuku, dan memenuhi kerudungku. Teh novi menunjukkan batu
yang menghantam pundaknya,
batu lonjong yang halus itu tidak terlalu besar,
tapi bisa menembus kaca bahkan menghantam pundak temanku sungguh diluar logika.
Ku bergegas pindah kekursi keempat dari belakang. Ku menoleh pada pemandangan
luar yang hanya dipenuhi pemakaman, sawah, dan pepohonan. Tak ada kehidupan
rasanya. Lantas, siapa yang melempar batu itu? kulihat jam, ternyata pukul
setengah tiga pagi. Sungguh sulit dimengerti oleh logika. Setelah kejadian itu,
aku tak dapat tidur kembali, rasa khawatir dan takut melandaku. Pikiranku
kacau, jantungku berdegup cepat, tanganku mendadak dingin. Ku bergegas berdo’a,
memohon perlindungan Alloh yang Maha Kuasa. Aku hanya duduk melamun memikirkan
sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan, sebuah kekhawatiran besar yang sangat
menggangguku. Sesekali ku menoleh pada kaca bagian kursi paling belakang,
lubang kaca itu semakin besar. Seluruh kaca itu rapuh terkoyak goncangan bis
yang kuat, serta terhempas angin malam yang kencang. Sebagian dari rapuhan kaca
itu perlahan jatuh memenuhi kursi. Aku berjalan kekursi belakang untuk sekedar
mengambil minum dan membangunkan kang ade agar pindah kedepan karena hembusan
angin yang semakin kencang. Setelah beberapa kemudian, aku tertidur lelap.
Sekitar jam 5 pagi kang
Maulana membangunkanku,ternyata kita udah sampai kota Jogja. aku semakin shock rasanya ketika melihat kaca depan supir yang retak.
mungkin terkena hantam batu pula? entah siapa yang melakukannya. alhamdulillah kami sudah sampai Jogja. Rasanya menyebut
kata Jogja itu seperti ada sensasi tersendiri. Aku bergegas merapihkan diri,
merapihkan wajah yang setengah sadar. Beberapa lama kemudian sampailah kami
diterminal Giwangan kota Yogyakarta.
Kami segera turun dan bergegas ke mushola
untuk sholat subuh. Ada pihak Daarul Qur’an Jogja yang menjemput kami dengan
mobil, kamipun segera berangkat untuk mencari sarapan. Sop pak Min
yang katanya
terkenal itu menjadi santapan kami dipagi yang cerah ini. Rumah makan yang
sederhana dengan bangunan kayu, kami duduk dikursi dan meja yang terbuat dari
kayu pula. Sambil menunggu pesanan, kami sekedar mengemil jajanan yang terhampar
dimeja makan. Beberapa tahu goreng, tempe goreng, perkedel dan ba’wan yang aga
aneh yang komposisinya itu seperti tahu dan toge tapi rasanya enak. Aku cicipi
satu persatu jajanan itu, dengan ala pak bondan di wisata kkuliner aku
mengikuti cara beliau mencicipi makanan dan mengomentarinya. Semua tertawa dan bilang
kalau aku ini lebay. Ya, seperti itu lah aku. Hehehe setelah hampir nsetengah jam menunggu akhirnya sop pun datang. sepertinya isi sopnya, kenung telur utuh, jeroan ayam, dan rempah-rempah lainnya. rasanya itu.... hmmm... enak sekali.
Setelah sarapan, kami bergegas ke kantor Daarul Qur’an
untuk membersihkan diri. kantor yang cukup luas dengan dua lantai diatasnya dan
AC yang membuat sejuk ruangan membuat kenyamanan tersendiri.
Setelah
membersihkan diri dan berta’aruf dengan
staf kantor, kami segera pergi ke gunung merapi. Petualangan dimulai....
Perjalanan
dari kantor ke merapi cukup lama, entah kami melawati jalur mana aku tidak
begitu tau. Aku terpaku pada handpone ditanganku. Beberapa saat kemudian ku
tertidur, mungkin mangantuk karena semalaman aku tidak cukup tidur. Rasanya
lelap sekali aku tertidur, tidak terasa kami sudah memasuki wilayah merapi.
Jalanan berliku dan terjal juga debu yang begitu tebal menjadi trak tersendiri.
Sesaat mobil terhenti untuk memberi jalan truk-truk besar yang melintas. Di
tengah perjalanan pemandangan begitu indah, tebing-tebing curam, bebatuan yang
besar, bukit-bukit yang indah menjadi pemandangan disepanjang perjalanan kami.
Kira-kira kami menempuh perjalanan 2 jam. Dari kejauhan sebuah tugu bertuliskan
“KAMPUNG QUR’AN MERAPI” menjadi ucapan selamat datang. Kami pun turun dan
disambut ramah oleh warga dan pengurus kampung qur’an yang bernama mas Aryo,
pria tinggi putih, dengan wajah teduh dan khas jawanya itu. Kami langsung
merebahkan diri sejenak di saung qur’an. Setelah melonggarkan kembali
otot-otot, ku bergegas keluar. Melihat-lihat sekeliling tempat ini. Ada sebuah
masjid yang lumayan besar tepat di sebelah kanan saung qur’an, sebuah kandang
sapi disebelah kirinya. Kami semua berfoto, dan berkeliling. aku pergi ke
kandang sapi untuk sekedar berkenalan dengan lima sapi itu
, memberi makan dan
berfoto-foto. Setelah itu kami kembali kesaung untuk mencicipi kue-kue yang
disuguhkan mas Aryo sambil berbincang-bincang. Sungguh luar biasa yang namanya
mas Aryo ini. Beliau adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Komunikasi
Pembangunan. Beliau sudah satu tahun menetap di kampung qur’an ini untuk
mengabdikan diri. sempat ada ustad lain yang membantu, tapi beliau mengundurkan
diri. Mas Aryo sungguh luar biasa, mengamalkan ajaran islam sendirian dan
menetap di merapi ini. Yang apa kalian tau? Jarak dari sini ke pasar saja 5km.
Beliau mengabdi sendiri dan berbaur pada masyarakat sekitar. Apa kalian tau?
Dulu misionaris sempat akan menguasai daerah sini, dengan sigap Daarul Qur’an
mencegahnya. Sekitar 80 rumah qur’an semi permanen dibangun untuk para penduduk
sini
, dan tiga saung qur’an untuk tempat menuntut ilmu, juga beberapa masjid
dibangun untuk media penyebaran ajaran islam. Apa kalian tau? Sebelumnya
masyarakat sini masih jauh dari ajaran islam. Konon sebelum kejadian gunung
merapi meletus tahun 2010, masyarakat disini banyak yang meminum minuman keras,
bermain judi, dan lain-lain. Banyak pula yang masih menganut paham animisme. bukan
hanya sekedar berdakwah atau mengajarkan ajaran islam. Bantuan, dukungan, dan
suport yang harus kita berikan. Entah itu dengan materil, material, ilmu, semangat,
dan perhatian. Mereka semua butuh kita, butuh uluran tangan kita, bukan sekedar
perkataan atau dakwahan kita saja. Pendekatan secara fisik dan psikologispun
nyatanya memang diharuskan. Bagaimana mas Aryo bersusah payah menarik para
penduduk agar mau mengikuti ajaran islam, itu sangat sulit. Ikut berbaur dengan
masyarakat, menjadi bagian dari masyarakat, mengikuti kegiatan masyarakata
dalam hal positif seperti berkebun, berternak, dan lain sebagainya. Menarik
hati anak-anak dengan cara bermain bersama, semua itu mas Aryo lakukan demi
menarik hati mereka agar mau mengikuti ajaran islam dan meninggalkan kebiasaan
buruk mereka yang sebelumnya. Mendengar cerita mas Aryo pada bulan puasa
kemari, saat waktu sahur tiba terdengar suara gemuruh yang tak ada hentinya. Beberapa
orang mungkin berpikir itu suara truk pengangkuit pasir tapi ternyata tidak. Itu
sebuah suara dari perut gunung. Masyarakat berbondong-bondong memperingati
masyarakat lainnya. Mas Aryo ikut keluar, semua penduduk berhamburan keluar. Mereka
segera menepi ke pengungsian di bawah kaki gunung yang jauhnya kira-kira 5km. Dengan
pencahayaan obor yang seadanya mereka semua berjalan melintasi lintasan yang
terjal. Betapa tidak? Turunan gunung
yang terjal, pepohonan yang rindang, serta kegelapan malam yang kelam mereka
taklukan bersama-sama untuk menyelamatkan diri. mereka takut terjadi hal yang
serupa seperti kejadian merapi tahun-tahun yang lalu. Seorang Da’i yang tak
masuk tv, begitulah sebutanku kepada mas Aryo. Begitu banyak pengorbanan yang
beliau lakukan, terpaut usianya yang masih sangat muda, kira-kira diatas 20
tahun mungkin 25 tahun. Dengan usia yang begitu muda, beliau melakukan sesuatu
yang sangat mulia dan luar biasa. Aku sirik melihatnya, aku sirik mendengar
ceritanya, aku sirik memandang keteguhan sikapnya. Setelah lama berbincang,
kami segera makan siang lalu sholat dzuhur bersama. Setelah itu aku, teh Novi
dan teh Lexy diantar mas Aryo untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk
yang jaraknya cukup dekat dengan saung qur’an. Rumah bu uin yang begitu
sederhana namun hangat dibuatnya, karena penghuni rumah begitu ramah dan
membuat kami nyaman. Kami beristirahat sejenak sampai ba’da ashar, aku langsung
sholat.
Kami bergegas turun
untuk pergi ke saung qur’an yang dibawah
. Bertemu adik-adik yang akan mengaji.Jalanan
terjal berdebu, jembatan kayu rapuh, pepohonan lebat dan jalan turunan menjadi trek perjalanan kami
saat itu. disana adik-adik sudah menunggu untuk lekas setoran membaca iqra.
Kira-kira anak TK sampai kelas 4 SD yang berada disana. Kamipun ikut membantu
mas Aryo untuk mendampingi mereka. setelah mengaji, kami bermain bersama.
Setidaknya memberikan perkenalan yang mengesankan bagi mereka. oh ya, ada panggilan
khusus dari mas Aryo untuk mereka. Jika mas Aryo memanggil “Santri....” mereka
menjawab “Siap ustadz...’. jika mas Aryo panggil “Santri, santri, santri”
mereka menjawab “Siap, siap, siap”. Sungguh menyenangkan melihat mereka semua
begitu antusias mengaji. Aku jadi terharu, membayangkan dulu mas Aryo bersusah
payah menjemput mereka agar mau menuntut ilmu di saung qur’an yang katanya
dengan sedikit paksaan dan bujukan. Dan alhamdulillah sekarang mereka sudah
sadar akan hal itu. bukan hanya anak kecil saja yang menuntut ilmu, para
remaja, orang dewasa bahkan kakek nenek pun tak mau ketinggalan. Ada yang masih
iqra 1, iqra 2 tapi mereka tak patah semangat untuk menuntut ilmu. Mengikuti
ajaran islam dengan sungguh-sungguh. Banyak yang mas Aryo ajarkan kepada
masyarakat merapi disana.Setelah itu, kami sholat magrib dan isya disana. Kami
pulang ke saung qur’an atas sekitar jam 7.30 malam. Cukup menakutkan,
dipegunungan yang hanya ada pencahayaan lampu seadanya kita berjalan membelah
kegelapan malam. Sebuah pengorabanan kecil yang kami lakukan jauh dari
pengorbanan mas Aryo bahkan lebih jauh dari pengorbanan Walisongo dan sangat
amat jauh dari perjuangan nabi Muhammad. Setelah sampai saung qur’an, kita
dijamu makan malam spesial. Ayam goreng, sayur, sambal, lalapan, dan lainnya.
Dengan lahap kami semua menyantap makanan yang disuguhkan dengan ala lesehan.
Masyarakat yang memasak itu semua untuk kami. Subhanalloh, begitu ramah dan
baiknya kami diterima dikampung ini. Setelah menyantap hidangan mas Aryo mengantar
para akhwat ke rumah bu Uin sedangkan para ikhwan bermalam disaung qur’an.
Beruntunglah ada kamar tertutup didalam saung, jadi mereka tidak akan
kedinginan.oleh hebusan angin pegunungan yang begitu dingin yang membuat kami
semua mengeluarkan asap dari hidung dan mulut kami. Setelah sampai rumah bu
Uin, kamipun beristirahat, karena esok hari kita akan traking ke gunung merapi,
mendekati puncaknya. Wah luar biasa, selintas aku jadi ingat film 5cm. Heheh
Keesokan
harinya tepat pukul 5 pagi aku dibangunkan teh lexy, aku bergegas sholat.
Setelah beberapa lama mas maulana membangunkan kita lewat telepon. Para ikhwan
sudah menunggu kita diluar. Kami bergegas merapihkan diri dan berangkat mendaki
gunung. Aku hanya berpakaian kaos, jaket tipis lalu dilapisi jaket tebal yang
ku pinjam dari teh lexy, untunglah beliau membawa dua jaket jadi aku dapat
meminjamnya dan dengan beralaskan kaos kaki dan sendal jepit.
Kami mendaki
gunung, dengan nafas yang terengah-engah, dengan kaki yang terkadang lemah,
dengan semangat yang tak terkalahkan. Kami berjalan terus menerus, walau lelah
menyelimuti tapi semangat kami tak kunjung mati. Walau dingin yang luar biasa
menyelimuti dengan semangat yang membara dapat menghangtkan kami. Kan kami
taklukan gunung merapi ini dengan kaki kami yang berpijak dibumi pertiwi ini.
Lebay sekali rasanya, tapi memang begitu adanya. Perjalanan kira-kira 1 jam
lebih. Pemandangan yang indah mengusir rasa lelah kami. Tebing, jurang,
pepohonan rindang kicauan burung, dan suasana alam yang mendukung membuat aku terhanyut
dengan suasana disini. Diperjalanan sesekali kumelihat penduduk yang mebawa
arit, entah untuk apa. Yang mencengangkan, aku melihat sosok nenek-nenek yang
berjalan mendaki gunung. Sungguh luar biasa sekali, kami yang masih muda ini
dengan berjalan tergopoh-gopoh. Beliau yang sudah lanjut usia ini begitu gigih
dan semangat, sungguh luar biasa. Aku tak banyak bicara, karena aku tidak
menguasai bahasa jawa. Jika menyapa penduduk disitu, aku hanya melemparkan
senyuman dan tundukan kepala saja kurasa itu sudah cukup. Perjalanan kami
terhenti sampai di pos pantau saja. Kami tidak melanjutkan ke puncak gunung
merapi karena waktu kami tidak cukup banyak. Tapi sungguh pemandangan yang amat
sangat luar biasa.
Bukit-bukit nan hijau, pegunungan yang berbaris rapih, angin
berhembus dengan patuhnya, dan suasana alam yang sangat sejuk memanjakanku. Aku
dan rombongan tak ingin kehilangan momen seperti ini. Aku yang sedari tadi
merekam keindahan dari bawah sana, sejak sampai diatas ini, semuanya berfoto
mengabadikan keindahan ciptaan Alloh. Aku lekas naik ke atas pos pemantau,
diatas sana semua pemandangan tersapu oleh pandanganku. Sungguh luar biasa
keagungan potrot indah yang Alloh ciptakan.
Setelah
beberapa lama menikmati panorama gunung merapi, kami bergegas turun kembali. Membersihkan
diri dan sarapan pagi. Sekitar jam 12 siang, pihak Daarul Qur’an Jogja
menjemput kami. Kami segera berpamitan dan berfoto untuk kenang-kenangan. Rasanya
begitu berat hati meninggalkan kampung qur’an merapi, beritu banyak pelajaran
berharga yang ku dapat dari sana. Sebuah pengorbanan besar, sebuah perbuatan
yang amat sangat mulai, dan sebuah keteguhan dan keikhlasan hati yang begitu
besar. Setelah itu kami bernagkat ke Daqu clinic. Perjalanan kira-kira 1 jam
lebih, seperti biasa aku tertidur lelap. Disana kita berkenalan dan berbincang
dengan para perawat disana. Berkeliling di sekitar clinic yang amat sangat
bersih, namanya juga clinic. Ada ruang laboratorium,
ruang pasien wanita,
pasien pria, ruang nifas, ruang bersalin, ruang tindakan, ruang terapi al-qur’an,
dan lain sebagainya. Setelah berkeliling kami berkumpul di ruang terapi qur’a,
berkenalan dengan ustadz fauzan. Kami disuruh bercerita tentang perjalanan kami
selama dijogja, sepertinya beliau sedang membaca kepribadian kami. Ya, aku
bercerita dengan gayaku sendiri. Setelah itu kami dapat kajian-kajian al qur’an
dari beliau. Beberapa lama berbincang, kami segera pulang dan lekas menuju
penginaman untuk menyimpan barang karena malam harinya kami akan pergi ke Gor
Among Rogo. Setelah sampai dipenginapan kami langsung membersihkan diri,
sholat, dan lekas ke TKP. Dengan berjalan kaki menikmati suasana Jogja yang
hangat dan bersensasi lain. Akhirnya beberapa lama kemudian kami sampai di Acara
Indonesia berjamaah
yang diadakan ustadz Yusuf Manshur. Beruntunglah, aku rombongan
mendapat undangan, jadi diberi kehormatan duduk dipaling depan dan mendapatkan
beberapa snack. Acara mulai pukul 8 malam sampai 10 malam. Ustadz menyampaikan
tentang patungan usahanya. Mengajak masyarakat agar membeli Indonesia kembali
sedikit demi sedikit. Menjadi inventaris, bukan menjadi buruh saja. Setelah itu
aku, teh Novi, teh Lexy dan kang Maulana segera melangkahkan kaki kedepan Gor
untuk mengedrop taxi untuk pergi ke Malioboro. Teman-teman yang lain tak
menyusul, mereka pulang dan beristirahat dipenginapan. Kami turun di Bang
Indonesia, berjalan disekitar Malioboro, melihat-lihat bangunan sekitar. Melihat
taman pintar, benteng vredeburg, jalanan malioboro, jajanan pinggir jalan dan
kumpulan anak remaja yang sedang menikmati dunia malam. Berjalan membelah dunia
malam di malioboro
, menikmati kuliner khas Jogja dan berbelanja beberapa kaos. Setelah
itu kami langsung segera pulang ke penginapan, agar besok pagi kami tidak
kesiangan bangun untuk kembali ke kota Bandung. Sesampainya di penginapan, kami
langsung membersihkan diri dan kemudian tidur. Keesokan harinya kami bergegas bangun
dan bersiap ke terminal untuk lekas membeli tiket bis ke Bandung.
Rasanya belum
puas berjalan-jalan, hanya segilintir sisi Jogja yang aku singgahi. Walau begitu,
sepertinya begitu banyak cerita yang aku alami. Tunggu aku datang kembali,
menjelajahi setiap sudut Jogja yang belum ku tapaki. Perjalanan yang amat
sangat berarti menjadi memori dan sensasi tersendiri.



Sunday, May 24, 2015
Unknown
































