NESYA PUSPITA PUTRI

Monday, 4 November 2013

lagi dan lagi



Aku mengenalmu lewat canda tawa. Membencimu karena tingkahmu yang selalu merayuku dihadapan teman-temanku. Bagaimana rasanya jika wanita terbuai rayuan pria? Disatu sisi itu sangat menjijikan, disisi lain tak dapat dipungkiri sosok wanita adalah makhluk yang senang dipuji. Aku pun begitu, aku mengenalmu karena caramu berkomunikasi denganku. Awalnya aku sangat membencimu karena semua tingkahmu yang konyol, yang selalu bertingkah bodoh dihadapan banyak orang. Kau menawarkan sejuta kebahagiaan padaku. Kau pun menawarkan perhatian yang lebih padaku. Ya, awalnya aku tidak menggubris. Lelaki sepertimu pasti lelaki yang selalu tebar pesona. Awalnya aku benci melihatmu, tapi lama-lama pesonamu itu menyilaukan hatiku. Aku tak dapat mengelak dari pesonamu. Semua canda tawa itu membuatku nyaman, membuat hariku penuh warna dan keceriaan. Selalu saja ada bahan untuk dibicarakan dan ditertawakan. Kau melebihi dari seorang pelawak dan aku nilai kau seorang mavia yang dalam sekejap merampok seluruh hatiku. Kita hanya dekat beberapa minggu saja dan lalu menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Seminggu, dua minggu, itu hari-hari yang sangat indah. Aku tak terlepas dari tawa renyahku. Sebulan, dua bulan, mulai terasa ada sesuatu yang berbeda. Canda tawa itu perlahan memudar layaknya uap teh dalam cangkir, yang semakin lama semakin menipis dan hilang. Kau berubah, merubah tawaku menjadi sedihku. Tak pernah ada obrolan menarik seperti dulu. sekedar menanyakan kabarpun rasanya kau enggan. Ada apa? Aku bertanya dalam diamku. Sampai suatu saat ku menemukan sesuatu yang ganjal dalam hp mu. Sebuah pesan singkat dari seseorang yang layaknya diperbincangkan dengan kekasih. Aku meminta penjelasan darimu. Kau bilang dia hanya adik kelasmu. Tapi hatiku tak mengatakan itu. sepertinya dia menaruh hati padamu, dan begitu sebaliknya. Aku mulai diam, sikapmu yang dingin semakin membekukan hatiku. Tak ku perdebatkan lagi soal dia, dia yang mungkin menjadi persinggahanmu sementara. Semakin hari kau semakin posesif terhadapku. Padahal aku masih seperti dulu, tak ada perubahan dalam sikapku. Harusnya aku yang begitu. Tingkahmu semakin liar tak terkendali. Dekat sana sini pada teman-temanku dihadapanku. Muak rasanya aku melihatnya, tapi apadaya. Aku hanya diam dan melihatnya, mengertikan dirimu yang memiliki sikap friendly pada siapapun. Tapi aku benci saat kau menyebutkan nama salah satu temanku dengan sebutan yang kau buat sendiri. Aku cemburu mendengarnya saat kau menceritakan dia. Kau memiliki panggilan nama lain padanya. Aku hanya diam dalam kesalku. Semakin hari kau semakin jauh dariku, walau setiap hari kita selalu bertemu. Sampai suatu hari ku menemukan pesan singkat di hp mu. Awalnya aku enggan membukanya, tapi hpmu tak hentinya bergetar. Dan itu semakin membuat hatiku bergetar dan terdorong untuk membuka hp mu. Pesan singkat dari seseorang. Oh itu ternyata mamahmu. Aku penasaran, ku baca satu persatu. Dan ya ampun, itu bukan mamahmu. Tapi mamah (panggilan) mu untuk seseorang diluar sana yang entah siapa. Pesan satu persatu ku baca, semakin ku baca semakin tersayat-sayat hati ini. aku hanya diam.entah harus apa yang ku perbuat. Sejenak aku terbuai dalam lamunanku yang kosong entah pergi kemana pikiranku. Aku diam tak berucap. Aku tak menegurmu, aku bersikap seperti biasanya. Malah ku beri ruang untukmu membalas pesan itu. Pantas saja selama ini kau semakin berbeda. Ternyata karena itu. mungkin dia kekasihmu yang lain. Bukan mungkin, tapi pasti. Beberapa waktu aku hanya terdiam tak menggubris persoalan itu. suatu saat emosiku memuncak karenamu. dan amarahku membludak karenamu, ku ungkit semuanya dihadapanmu. Ku keluarkan semua emosiku yang selama ini ku pendam. Dengan sedikit ku tahan dengan kesabaranku, bibir ini tak henti berkata semua tentang keburukanmu. Kau hanya diam seribu bahasa. Mungkin memikirkan alasan yang tepat agar aku terdiam dan percaya. Tapi semua alasanmu tidak logis, tidak masuk akal. “aku sayang kamu, tapi aku juga sayang dia” itu kata yang selalu terngiang ditelingaku hingga saat ini. hatiku tidak hancur, karena sebelumnya kau sudah menghancurkan hatiku dengan semua tingkah lakumu. Bodohnya aku, aku selalu memafkanmu. Kau lagi dan lagi dapat meyakinkanku. Dan aku tenggelam dalam semua janji busukmu. aku mencintaimu, tapi aku pun membecimu sebesar aku mencintaimu. Aku memberikan kesempatan itu lagi dan lagi. apa aku tidak terlalu totol? Mengijinkan seseorang mengikis hatiku selalu. Kau berubah dalam sekejap, kau menjadi sosok yang ku cinta dulu sejak pertama kita bertemu.sekejap aku terbuai. Sampai saatnya, aku mengenal sosok teman yang menyadarkanku akan semua tentangmu. Dia teman laki-laki ku yang sepertinya peduli padaku. “hanya orang bodoh yang jatuh pada lubang yang sama” nasehat itu sangat ampuh untuk menyadarkanku dari manisnya sikapmu. Disitu aku semakin sadar akan hadirmu yang hanya sebagai penghancur hatiku. Aku mengakhiri status kita. Kau selalu mengajak ku balikan denganmu. Satu sisi aku masih memncintaimu, tapi disisi lain rasa benciku semakin besar dan lebih besar dari rasa cintaku padamu. Kau melakukan segala cara untuk membuatku terbuai lagi dengan janji manis dan sikapmu. Aku ikuti semua permainanmu. Tapi aku memilki aturanku sendiri dalam bermain. Sampai temanku yang selalu menasehatiku, dia menyampaikan isi hatinya padaku. Aku hanya terdiam, aku sedang tak ingin memulai kisah cinta klasik lagi dengan siapapun. Ya jatuh cinta, lalu patah hati. Aku belum berani mengambil resiko itu. entah bagaimana caranya, kau kenal dengan temanku. Kalian meminta penjelasan padaku. Aku wanita tegas yang tak tahan akan ketidak pastian. Aku sedikit bersandiwara dengan cara membohongi kau dan temanku bahwa aku mengalami kecelakaan. Aku diam di rumah sakit menunggu kehadiran kalian. Kalian datang dengan tergopoh gopoh mencariku sampai ke ruang IGD. Aku melihatnya dan tersenyum, tapi aku pun sedih dan berpikir mungkin sikap itu hanya saat ini saja. Beberapa saat kemudian aku menghubungimu dan temanku untuk segera datang ke depan mesjid yang aku diami. Kau datang dengan wajah capek dan penuh emosi. Disusul temanku yang datang yang menuduhmu sebagai pelaku yang menabrak ku. Disitu mungkin memang aku jahat. Tapi disitu aku mengakhiri sandiwaraku dan segala sandiwara kita. Aku menjelaskan padamu bahwa hatiku sudah beku sedari dulu padamu, tak ada rasa sedikitpun yang tertinggal dalam hatiku lagi untukmu. Kau terdiam dan menerima itu semua sepertinya. Kau tidak berkomentar, mungkin malu karena ada temanku disebelahmu. Dan aku menjelaskan pada temanku bahwa persaanku hanya sebagai sahabat dengannya. Aku nyaman dengannya sebagai sahabat, tidak lebih. Kau dan dia menyepakati keputusanku ini. entah dengan ikhlas atau tidak. Kau selalu menghubungiku walau sudah ku jelaskan semuanya. Kau semakin mendekatiku, sedangkan dia semakin jauh denganku. Dia menghilang entah kemana. Dan kau, mencoba dekat kembali denganku. Aku pun tak bisa menolak karena aku tak ingin memutuskan tali silaturahim denganmu. Kau selalu mencoba mencuri hatiku. Hampir saja aku tenggelam dengan semua janjimu, tapi aku langsung tersadar. Semakin hari semakin dingin aku menanggapi mu. Kadang aku tak menggubrismu. Suatu hari ku mendapati dirimu sedang jatuh cinta lagi. dan itu pada orang yang ku kenal. Aku cukup diam dan tersenyum. Berdo’a semoga dia bukan korbanmu selanjutnya. Dan syukurlah, dia lebih pintar dari yang ku kira. Dia lolos dari rayuan mu yang beracun. Dan ku tutup kisah cintaku denganmu sampai disini. Aku ingin berjalan sendiri tanpa ketergantungan denganmu. Menata semuanya dari awal. Dan hidup kembali meberikan keceriaan dan aku bisa tanpa mu.
Lagi dan lagi aku bertindak bodoh. Dan untuk selanjutnya aku akan lebih bijak dalam memilih sosok yang mencintaiku. Karena cinta itu menurutku kebahagiaan. Jika hanya kesengsaraan yang diterima, itu bukanlah cinta.

2 comments:

Sifa Fauziah said...

Plis gila bgt. Entah apa yang buat gue nyasar malem-malem ke blog lo ini. Kata-katanya menyentuh, di tambah gue juga pernah ngerasain kaya lo yang sesekali masih nakitin. Kasusnya sama, adik kelas dan beberapa yang lain. Ngerasa ada kesamaan dalam kisah lo ini. Btw ini kisah beneran?

nesya puspita said...

wah kebetulaan banget ya sifa :D terimaksih sudah membaca postingan Nesya. ini kisah nyata. hehehe

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons