NESYA PUSPITA PUTRI

Sunday, 24 May 2015

Yang Ku Butuhkan Tuntunanmu, Bukan Tuntutanmu!

Yang Ku Butuhkan Tuntunanmu, Bukan Tuntutanmu!
Malam minggu yang kelabu tapi membuatku selalu merindu. Malam minggu yang syahdu, ku manfaatkan menulis kata-kata ini tanpa lantunan lagu. Karena sulit bagiku menuangkan imajinasiku dalam suara suasana yang gaduh.
Malam ini aku bertemu denganmu. Jujur, aku sangat merindukanmu. Tapi bukan merindukan ragamu, tapi merindukan sosokmu yang dulu. kau tau berapa lama cinta kita berpadu? Berbulan bulan lamanya hingga kita niatkan tuk saling menyematkan cincin dan ikatan suci atas nama Illahi. Sebelumnya maafkan aku, tapi ini juga bukan salahku dan pun bukan salahmu. Hati ini bagaikan kurva dengan titik tertentu yang tak beraturan naik dan turun,begitu juga hatiku.Rasa ini bagai goresan garis lurus yang melintang diantara titik titik cintaku padamu, terkadang naik dan tak jarang pun turun. Ini hal biasa dalam sebuah hubungan dua manusia. Garis kurvaku yang dinamis tak menentu kemana arah hati kan membawanya, kini ia jatuh drastis pada titik yang paling rendah. Sekali lagi ku tegaskan, ini bukan salah mu atau pun juga salah ku. Garis kurva ku tetap pada titik jenuh itu, statis tanpa pergerakan menuju perbaikan. Padahal hubungan ini sudah kita rencanakan sampai pelaminan. Tapi entah, aku pun kebingungan. Aku merasa kau tak seperti dulu. Entah ini hanya perasaan ku atau memang kenyataannya begitu. Kau dekat, bahkan sangat dekat. Tapi entah mengapa rasanya sulit menggapai hatimu dengan rengkuhan hatiku yang semakin hari semakin menjauh. Boleh kah aku mencurahkan apa yang terselubung dalam kata-kata ku sepanjang paragraf tadi? Sebelumnya maafkan aku bila aku lancang mengatakan hal ini.
Sayang..... aku merasa kehilangan hatimu dalam ragamu. Hatimu yang dulu selalu memujiku, hatimu yang dulu selalu mengutamakanku, hatimu yang selalu dekat dengan hatiku, dan bahkan hatimu yang menerima segala kekuranganku tanpa menuntut ini dan itu. Tapi kini.... aku tak menemukan hal itu. Bukan aku tak menemukan, tapi aku tak merasakan. Semuanya masih sama, hanya saja saat ini secara tidak langsung kau memaksaku menjadi apa yang kau mau. Aku tau, itu untuk kebaikan ku sekarang dan masa yang akan datang. Tapi mengertilah, ketika cinta terlalu banyak tuntutan ini dan itu, kau tidak akan pernah menemukan kepuasan.
Sayang.... dengarkan aku. Walau aku tau, kau selalu mendengarkanku dengan seksama. Tapi sekarang dengarkan aku sebagai wanita yang hendak menuju dewasa. Jangan menuntutku ini dan itu. walau aku tau kau ingin yang terbaik untuk ku dan untukmu di kehidupan kita yang baru. Tapi dengarlah, setiap apa yang kau inginkan adalah tekanan bagiku. Usia kita yang terlampau cukup jauh membuatku belajar begitu keras untuk mengejar semua yang tertinggal dari mu. Aku diam bukan berarti aku tak bertindak. Aku belajar pada kehidupan. Tapi aku mohon, jangan kau tuntut aku sekeras mungkin. Aku masih belajar, PR ku masih terlalu banyak untuk ku selesaikan. Menjadi wanita sholehah, cantik, anggun, menawan, cerdas dan keibuan siapa yang tak ingin?
Percayalah, aku pun sedang memperjuangkan diri menjadi wanita yang sempurna dimataku, dimata mu bahkan dihadapan-Nya. Jangan tuntut aku dengan semua keinginanmu. Semakin hari aku semakin membunuh waktu ku, menghitung mundur sampai hari dimana kau mengkhitbahku. Hari demi hari aku belajar menjadi wanita seperti itu. jangan paksakan aku, dan jangan menuntut aku. Yang aku butuhkan adalah bimbingan darimu. Yang aku inginkan adalah tuntunan dari mu. Ketika kelak kau menjadi imamku, percayalah semua hal yang aku lakukan akan berdampak baik padaku dan dirimu.
Disini aku belajar sendiri, belajar memahamimu, belajar mengenalmu, belajar menjadi apa yang kau mau. Tapi tidak semudah itu, sayang. Ketika keinginan keinginanmu menjadi obsesi bagimu itu hal yang tidak baik. semoga saja kau tak seperti itu. dampingi aku untuk melewati proses itu. tuntun aku menggapai puncak itu. Jangan pernah bosan dan menyerah. Aku disini siap mendaki tangga-tangga itu asal kau selalu menuntunku dan kita jalan bersama berdampingan. Bukan aku yang berjalan sendirian di belakang dan kau meneriaki ku dari depan.
Aku bercermin, aku bukanlah wanita yang sempurna. Entah itu dalam hal fisik, sifat, kecerdasan, dan hal lainnya. Tapi terimalah aku apa adanya. Lalu kita melangkah bersama dan bergandengan untuk merubah menjadi yang yang lebih biak. Kau menuntunku dan mengajariku segalanya. Bahkan kita bisa belajar bersama dalam sekolah kehidupan ini. bukan malah “Terima kamu lebih dari adanya” (kata-kata mu dulu yang masih terngiang di telinga dan membekas dihatiku). Aku tau kau ingin yang terbaik untukmu, tapi sadarlah ketika aku tak sesempurna itu dan tak secepat itu dalam berproses menjadi apa yang kamu mau.
Sayang.... andai lidah dan bibirku mampu mengatakan hal ini dihadapanmu. Mungkin tulisan ini tak kan ku buat. Lidahku terlalu kelu dan kaku melontarkan segalanya padamu. Tapi percayalah, cinta ini masih setia untukmu. Mungkin aku hanya terlalu merasa sendiri pada proses kemandirian dan kedewasaan tanpa tuntunan darimu. Ingatlah sayang, yang ku butuhkan adalah tuntunan bukan tuntutan J

2 comments:

Iqbal Muhammad said...
This comment has been removed by the author.
Iqbal Muhammad said...
This comment has been removed by the author.

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons