NESYA PUSPITA PUTRI

Thursday, 29 May 2014

“TOPENG” Karya Nesya Puspita Putri Diadopsi dari naskah monolog ‘TOPENG’ Karya Nn (No name)

“TOPENG”  Karya Nesya Puspita Putri  Diadopsi dari naskah monolog ‘TOPENG’  Karya Nn (No name)

Sutradara         : Nesya Puspita Putri
Karya              : Nesya Puspita Putri

Setting             :Panggung sederhana yang dihiasi properti satu kursi ditengah untuk pemeran utama.
Naskah           :
Para pemain mengenakan topeng dan kostum. Ditambah musik yang mengiringi tarian topeng para penari. Semua berjalan dari belakang kursi penonton menuju panggung sambil menari. Setelah sampai panggung, pemain menari sambil mengelilingi panggung berpola lingkaran sebanyak 1x. Kemudian para pemain duduk lesehan membentuk setengah lingkarang, ditengah tengah pemain duduklah disebuah kursi untuk pemain utama. Kemudian membuka topeng yang mereka kenakan.

Backsound      : Suling
Assalamualaikum Wr.Wb
Aduhai, senang sekali hari ini aku bisa menyapa kalian. Baiklah kali ini kita berbicara tentang”Topeng dan Para Penggunanya”.
Sebelumnya, perkenan aku bertanya pada kalian, apa yang kalian tahu perbedaan orang yang mengenakan topeng dengan yang polos menampilkan wajah apa adanya?
Aku pun jujur saja tak mampu membedakannya. Ada yang tak mengenakan topeng, tapi perilakunya seperti seseorang yang bertopeng—kita-kira apa ia juga menunggang kuda? Ayolah, mari cermati fenomena ini. mari sedikit leluasa tebarkan pandangan kalian. Bagaimana kalau aku yang memulainya? Biar ku lempar dulu pendapatku. O, silahkan saja kalian mengakap sederet ide terbangku yang bersayap.
Baiklah, aku akan segera menangkapnya dan memikirkannya. (Salah satu pemain bertanya)
Ya, kau benar itu selagi tak ada awan gelap menyembunyikannya, dan sebelum angin yang terlalu kencang diatas melayangkannya terlalu jauh. Kejarlah! Tangkap segera!
Tapi, apa tidak sebaiknya kau dulu yang mengemukakan pendapatmu?! (salah satu pemain bertanya)
Baiklah, baiklah...... aku berpendapat bahwa topeng itu perangkat tiruan wajah.
Apa mungkin seperti ‘mimesis’ atau bahasa lain dari imitasi atau copy atau palsu? Adalah seperti yang Aristoteles melihat mimesis itu lebih dari sekedar imitasi terhadap realita. Menurutnya konsep ini merajuk pada representasi dari tipe-tipe dan tindakan manusia pada umumnya dari pada imitasi dari alam. (salah satu pemain bertanya)
Apa? Kau bilang itu ‘mimesis’? Tunggu, tunggu dulu... itu bukan peniruan yang diambil  dari kenyataan tanpa upya merekayasa. Topeng yang ku maksud, oh, tentu saja manipulasi diri sendiri pada suatu figur ideal.
Apa yang kau maksud topeng yang berwajah seperti badut yang lucu dan konyol? (salah satu pemain bertanya)
Hmmm.... baiklah. Kau bertanya apa topeng itu berwajah badut, suka melucu dan bertingkah laku konyol. Aku sedikit gambaran padamu. Topeng itu bisa saja berwajah badut humoris tetapi berhati seperti yang dimiliki sang raja hutan yang ganas. Bagaimana bisa? Silahkan kau bertanya lagi padaku. Hanya saja aku berpendapat  bahwa keramahan tertentu belum bisa tulus sebagaimana yang ditampilkan.
Nah, kau jadi penasaran kan? Aku anjurkan padamu agar gemar mengamati orang-orang disekililing dirimu saja. Banyak diantara mereka yang bersembunyi dari diri sendiri yang sebenarnya.
Bagaimana kalu kuberi contoh secara sekilas saja? Bisa kau dapati penjelasan yang terang? Aku mungkin cenderung mau mengatakan bahwa orang-orang bertopeng sering berahasia. Lalu, bisa saja mereka menunggan kuda dengan sebilah pedang anggar yang pipih dipinggang kiri. Hahahahahaha........ kau tentu kini mengira mereka para pengikut zorro, bukan? Santai saja dulu. waktu kita masih banyak untuk membahasnya.  Jangan terlalu tegang sarafmu.
Mau cicipi dulu penganannya. Hmmm... sepertinya panitia tidak menyiapkan sedikit snack untuk kita. Atau mungkin minum saja dulu. Tapi minum pun tak ada juga. apa boleh buat?
Baiklah, mari kita diskusikan lagi.
Tahu tidak kau? Orang yang mengenakan topeng sebenarnya mencoba untuk berperan ganda. Seperti orang-orang munafik. Ia ingin berperan sebagai aktor yang begitu didambakannya, dan sekaligus tentu saja ia juga ingin menyutradarai peran yang dikonsepkan  dalam kehendaknya sendiri. Makanya banyak rekayasa yang dilakukan demi penyempurnaan peran yang sedang ditampilkan.
Alasannya? (salah satu pemain bertanya)
Apa kau tanyakan padaku tentang sebuah alasan? Ah, tentu itu sama saja dengan membicarakan mengapa kita perlu makan. Dalam kasus orang bertopeng , oh, kawan, kau harus tau semuanya hanyalah kamufalse. Samaran  yang menutupi  bagaimana orang lain bisa tertipu dengn penampilan sehingga peluang-peluang bisa datang . Lalu? Ah, aku kira kau pasti tau kelanjutannya,. Selanjutnya tak lain hanyalah jalan untuk mendapatkan apa yang diincar , merebutnya bukan dengan rampasan tetapi melalui pesona tampilan yang memukau kesadaran
Sungguh? Mereka benar-benar melakukan hal itu dengan sempurna. (salah satu pemain bertanya)
Ya, kau benar!. Tentu saja sebuah metode yang cantik, bukan?
Setting             :
Bancsound berhenti. Para pemain diam sejenak dan terkejut. Nampak bingung dibuatnya.  Satu pemain maju kedepan beberapa langkah. Pemain lain yang dibelakang nampak heran dan kebingungan. Pemain yang maju kedepan melantunkan ayat Al-Qur’an tentang orang-orang munafik.

Tapi seperti apa kah mereka yang sebenarnya? yang ada disekitar kita? Kau mesti memberiku suatu penjelasan yang lebih terperinci. (salah satu pemain bertanya)
Baik, baiklah... sepertinya kau masih bingung dan butuh lebih banyak lagi penjelasan. Sekarang biar aku bertanya dulu. apa pernah kau melihat seseorang yang sepertinya patuh yang kemudian dari belakang mengumpat kepatuhannya sendiri? Dan berdusta pada apa yang ia bicarakan? Apa pernah kau memperlihatkan orang yang tak menempati janji karena waktu yang mendesaknya untuk mengucap janji? Sebenarnya begini saja...
Orang bertopeng punya kebiasaan berkata bahwa janji yang diucapkan pada keadaan terpaksa tak seharusnya ditepati.
Lho kok bisa? (salah satu pemain bertanya)
Ah, lagi-lagi kau terlalu lugu! Janganlah seperti itu! cobalah biasakan dirimu sendiri untuk melihat apa yang terjadi sesuai pernyataan sebagaimana awal kejadiannya. Jangan bertanya mengapa orang bisa sedemikian manipulatif. Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu.
Apakah itu? (salah satu pemain bertanya)
Iya, tenanglah. Aku akan terangkan semuanya padamu. Orang bertopeng selalu berperan sesuai tuntutan skenario yang ia tulis sebelumnya, tetapi dengan luwes selalu pandai ia merevisi kembali bila skenario awal yang ditulis tak sejalan dengan situasi terkini. Mudahnya, siapapun yang berada diatas panggung kepentingan pribadinya, ia akan berteriak lantang seperti ikrar awal yang memandu dirinya berperan meraih segala kepentingan pribadi sebagai motivasi penampilannya.
Setting             :
Backsound berhenti
Lagu
Salah satu pemain maju dan bernyanyi lagu Peterpan _ Topeng

Kemudian kembali duduk seperti sebelumnya.
Naskah                        :
Seperti para wakil rakyat yang luwes berjanji diatas Ai-Qur’an dengan begitu manis kata-katanya dengan janji-janji palsunya, lalu kemuadian setelah duduk dikursi wakil rakyat apa yang mereka lalukan? Semua janji, mereka ingkar semua. Tanpa merasa bersalah melakukan hal yang membuat mereka senang dan puas. Apa kau tau ikrar para pengguna topeng dipanggung kepentingan pribadinya? Dengar dan simaklah bauk-baik. aku akan katakan padamu dengan intonasi yang mudah-mudahan bisa menggambarkan situasi pengucapan ikrarnya. Sebentar aku tarik napas dulu, berkonsentrasi, menyulap diriku seolah-olah bagian dari mereka.
“Kami bukan siapa-siapa. Karena kamibisa jadi siapa saja, maka kami berterimakasih pada para penerjemah. Maha Agung Dia yang diatas sana sebab begitu pemurah menutup mata semua orang yang kami buat terlena...”
Begitulah ikrar para pengguna topeng, kawan. Semoga kita terhindar dari tipu muslihatnya. Ya, mudah-mudahan saja. 

Wassalamualaikum Wr. Wb

1 comments:

Ginny Laura said...

Artikel ini sangat bermanfaat.
Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons