NESYA PUSPITA PUTRI

Friday, 15 May 2015

Assalamu’alaikum calon imam ku...

Assalamu’alaikum calon imam ku...
Di pengujung tahun 2015 ini kan kau sematkan cincin dijari manisku. Kau ikat aku dalam sebuah hubungan yang menjadi pijakan pertama kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Dua keluarga yang akan menjadi satu kesatuan keluarga besar, aku dan kamu yang menjadi perantara semua itu. yakin kah kau dengan pilihan mu? Memilih aku yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu kelak? Menjalin cinta kasih di dunia hingga ke surga? Terlalu banyak pertanyaan bila semua kata tersurat begitu saja.
Statusku yang masih menjadi mahasiswa disalah satu universitas menjadi pertimbangan yang besar. Semester 6 yang menjadi titik kejenuhan ku dalam pendidikan ini. Tapi kehadiranmu dan niat tulusmu mempersuntuingku menjadi kekuatan besar yang mengharuskan ku segera menyelesaikan studiku dan segera mengganti satus menjadi sarjana dan istri mu. Dengan sabar kau menggu ku, dengan ikhlas kau membantuku dalam perjalanan yang berliku. Usia yang baru menginjak 20 tahun ini cukup sulit bagiku. Banyak tanggung jawaab yang aku ku emban, mungkin itu proses pendewasaan. Tapi mengerrti lah, jangan paksakan aku mengejar sikap dan pikiran dewasa mu yang jauh dari usia ku. Biarkan aku bermain dan bebas berkarya dengan komunitas dan teman-teman ku sebelum aku mengabdi padamu wahai calon suamiku. Aku pun tak pernah lelah untuk belajar mendalami agama dan ilmu untuk berumah tangga. Menjelajahi setiab website yang tersedia artikel-artikel yang membahas segalanya tentang pranikah dan pasca nikah. Berguru dari satu ustadz ke ustadz lain dan mengikuti sekolah pranikah demi ilmu yang kelak ku dapat. Mengertilah, kesibukanku saat ini adalah dimana untuk memuaskan hasrat ku yang menggebu. Masa muda masanya berkarya. Agar kelak aku menjadi orang yang berjaya. Bukan hanya untuk diriku, tapi juga kamu dan keluarga.

Mengertilah, sikap kekanak-kanakan ku yang mungkin membuatmu kesal. “Tidak ada yang ideal selama di dunia. Ketika kita berprinsip saling menerima kekurangan masing-masing, proses perbaikan akan mudah dijalankan. Menerima kekurangan tentu saja bukan untuk didiamkan, tapi rela menerima untuk kelak sama-sama saling memperbaiki.” Kutipan yang kuambil dari seorang hamba Allah. Aku mencintai segala kekuranganmu,cintai juga aku dengan kekuranganku. Jangan tuntut aku menjadi apa yang kau mau. Tapi cintai aku agar hatiku luluh dan menjadi istri yang patuh bagimu. Percayalah, kau pria yang luar biasa untukku. Kelembutan sikapmu, santunnya tutur katamu, dan sikap humorismu mampu mencuri hatiku. Bahkan kau mampu mengetahui pribadiku jauh dari apa yang ku tahu. Terimakasih untukmu yang tak pernah lelah mendampingiku untuk menjadi sosok wanita yang dewasa, anggun dan bersahaja.

1 comments:

roni nurjaman said...

wweeeeeewww :D

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons