NESYA PUSPITA PUTRI

Saturday, 31 August 2013

MY ADVENTURE IN JOGJA

Daerah Istimewa Yogyakarta, kota yang sangat ingin ku kunjungi sedari dulu. Namanya saja daerah istimewa, jelas banyak keistimewaan yang terhampar disetiap sudut kota tersebut. Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, aku diijinkan untuk menginjakkan kaki di kota yang penuh dengan budaya dan wisata itu. Lewat sebuah Yayasan Daarul Qur’an milik ust. Yusuf Manshur, aku akan menapaki kakiku ke kota Yogyakarta (penuh semangat). Kalian pasti bertanya-tanya dalam benak kalian, apa hubunganku dengan yayasan tersebut? sekilas cerita yang penuh makna, beberapa waktu lalu  tepatnya di bulan ramadhan aku menjadi salah satu relawan di yayasan tersebut. Menjaga gerai sedekah disuatu tempat di kota Bandung. Pengalaman yang sangat menyenangkan, penuh tantangan dan pengorbanan. Bertemu banyak teman baru yang memiliki kemampuan, pengalaman dan kepribadiannya masing-masing. Sungguh diluar dugaan, aku mendapatkan penghargaan sebagai relawan teraktif, staf kantor dan teman-temanku menyebutnya dengan “relawan tanpa urat malu”. Karena digerai aku sangat aktif dan cekatan menarik donatur untuk mensedekahkan, menzakatkan dan mewakafkan sebagian hartanya pada yayasan kami yang akan kami salurkan yang sebagian besar pada penghafal al-qur’an. Aku mendapatkan piagam, bonus buku ust. Yusuf Manshur, dan beberapa waktu kemudian aku dihubungi orang kantor untuk mengikuti program acara ke Jogja bersama empat staf kantor yaitu kang Maulana, kang Haryadi, kang Ridwan dan teh Alexandria atau yang biasa aku panggil teh Lexi. Dan juga tiga teman relawanku seperti teh Novia, kang Ade dan kang Eko. Pemberangkatan ke Jogja dijadwalkan tanggal 26 agustus 2013. Satu hari sebelum hari pemberangkatan, aku mempersiapkan segalanya untuk ke Jogja dari beberapa potongan baju, celana, sandal, dan barang lainnya yang memang aku butuhkan disana. Merapihkannya pada sebuah ransel hitam besar, dan tambahan tas selempang kecil untuk menaruh dompet dan handponeku agar mempermudah jika ada panggilan masuk atau transaksi lainnya.. Begitu banyak bayang-bayang sisi Jogja yang aku idamkan.
            Aku segera kumpul di Daarul Qur’an jam 4 sore, yang bertempat di jalan P.U pengairan atau belakang R.S Al-Islam. Menunggu semuanya kumpul dan mempersiapkan segalanya. Sungguh tak sabar rasanya ingin segera sampai. Menikmati suasana Jogja yang eksotis, memandang panorama indah disetiap pojokan kota Jogja yang penuh dengan budaya dan wisata. Setelah pukul 5 sore, kami bergegas pergi ke terminal cibiru. Dengan diantar mobil xenia putih yang dikendalikan oleh kang Dede (staf kantor), mobil melaju dengan cepat. Sesampainya di terminal, suara adzan berkumandang, kami langsung bergegas melangkah kerumah Alloh untuk sholat magrib berjamaah.. Hampir satu jam menunggu, bis Budiman jurusan Bandung-Jogjakarta pun datang. Kami segera meletakkan barang-barang di bagasi belakang,aku, teh Novi, teh Lexy dan kang Ridwan duduk dikursi paling belakang sedangkan kang Maulana dan kang Haryadi duduk didepanku, kang Ade duduk didepan kang Maulana. Kang Eko berangkat ke jogja dari Purwodadi. Sambil menunggu sang sopir menancapkan gasnya kami bercengkrama bersama bercerita tentang program kami di Jogja. Duduk dikursi bernuansa biru bercorak penuh warna. Setelah beberapa lama kemudian bispun berjalan dengan kecepatan yang tak biasa. Seperti menaiki rollercoaster, dengan kecepatan penuh sang sopir mengendalikan bisnya seakan melayang-layang dibuatnya. Penumpang bis yang tidak terlalu penuh membuat ruang begitu melegakan, tak ada acara berhimpitan atau apapun itu. Beberapa teman-temanku tertidur lelap disuasana bis yang luar biasa cepat dan ditambah jalanan yang tidak semulus jalan tol. Aku terdiam, melihat panorama indah dimalam hari lewat etalase jendela bis. Begitu sunyi dan begitu damai suasana yang terjadi saat itu. Tak terasa perjalanan sudah sampai daerah Ciamis jam 12 malam, kondektur bis membangunkan penumpang untuk segera turun dan menikmati hidangan makan malam disalah satu rumah makan. Rombongan kamipun ikut turun dan segera mengantri. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk aku lekas mengambil piring, ku isi dengan nasi putih, ati ampela, dan sayur sop. Akupun lekas menempatkan diri dimeja makan yang masih kosong, yang lainnya pun mengikuti. Ku llihat sekelilingku, para penumpang begitu lahap menyantap hidangannya dengan wajah yang mungkin masih setengah sadar. Rumah makan yang cukup luas berdinding cream dan dipadu padankan coklat muda dan dengan hamparan makanan prasmananya.
Usai makan, semua penumpang kembali kedalam bis, dan duduk ditempatnya masing-masing, begitupun aku dan rombongan. Rasanya kenyang sekali, hawa kantukpun semakin melanda kelopak mataku. akupun tertidur tak sadarkan diri, inilah efek karena sedrai dari mataku terjaga memandangi pemandangan malam diluar sana. Dug. Tiba-tiba suara keras terdengar, spontan akupun terbangun. Ku melihat-lihat pada kedaan sekitarku, yang lainpun ikut terbangun saking kerasnya suara tersebut. saat ku menoleh kearah kanan tepat tempat duduk teh novi, kaca jendela yang besar dan tebal itu pecah. Kepingan-kepingan kaca itu berserakan, sampai berhamburan kekursiku. Dengan kesadaran yang belum seutuhnya full, aku dan yang lain ditegaskan untuk pindah tempat duduk. Tak diduga serpihan kaca sampai terhempas kedalam sepatuku, dan memenuhi kerudungku. Teh novi menunjukkan batu yang menghantam pundaknya,
batu lonjong yang halus itu tidak terlalu besar, tapi bisa menembus kaca bahkan menghantam pundak temanku sungguh diluar logika. Ku bergegas pindah kekursi keempat dari belakang. Ku menoleh pada pemandangan luar yang hanya dipenuhi pemakaman, sawah, dan pepohonan. Tak ada kehidupan rasanya. Lantas, siapa yang melempar batu itu? kulihat jam, ternyata pukul setengah tiga pagi. Sungguh sulit dimengerti oleh logika. Setelah kejadian itu, aku tak dapat tidur kembali, rasa khawatir dan takut melandaku. Pikiranku kacau, jantungku berdegup cepat, tanganku mendadak dingin. Ku bergegas berdo’a, memohon perlindungan Alloh yang Maha Kuasa. Aku hanya duduk melamun memikirkan sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan, sebuah kekhawatiran besar yang sangat menggangguku. Sesekali ku menoleh pada kaca bagian kursi paling belakang, lubang kaca itu semakin besar. Seluruh kaca itu rapuh terkoyak goncangan bis yang kuat, serta terhempas angin malam yang kencang. Sebagian dari rapuhan kaca itu perlahan jatuh memenuhi kursi. Aku berjalan kekursi belakang untuk sekedar mengambil minum dan membangunkan kang ade agar pindah kedepan karena hembusan angin yang semakin kencang. Setelah beberapa kemudian, aku tertidur lelap.
Sekitar jam 5 pagi kang Maulana membangunkanku,ternyata kita udah sampai kota Jogja. aku semakin shock rasanya ketika melihat kaca depan supir yang retak.
mungkin terkena hantam batu pula? entah siapa yang melakukannya. alhamdulillah kami sudah sampai Jogja. Rasanya menyebut kata Jogja itu seperti ada sensasi tersendiri. Aku bergegas merapihkan diri, merapihkan wajah yang setengah sadar. Beberapa lama kemudian sampailah kami diterminal Giwangan kota Yogyakarta.
Kami segera turun dan bergegas ke mushola untuk sholat subuh. Ada pihak Daarul Qur’an Jogja yang menjemput kami dengan mobil, kamipun segera berangkat untuk mencari sarapan. Sop pak Min
yang katanya terkenal itu menjadi santapan kami dipagi yang cerah ini. Rumah makan yang sederhana dengan bangunan kayu, kami duduk dikursi dan meja yang terbuat dari kayu pula. Sambil menunggu pesanan, kami sekedar mengemil jajanan yang terhampar dimeja makan. Beberapa tahu goreng, tempe goreng, perkedel dan ba’wan yang aga aneh yang komposisinya itu seperti tahu dan toge tapi rasanya enak. Aku cicipi satu persatu jajanan itu, dengan ala pak bondan di wisata kkuliner aku mengikuti cara beliau mencicipi makanan dan mengomentarinya. Semua tertawa dan bilang kalau aku ini lebay. Ya, seperti itu lah aku. Hehehe setelah hampir nsetengah jam menunggu akhirnya sop pun datang. sepertinya isi sopnya, kenung telur utuh, jeroan ayam, dan rempah-rempah lainnya. rasanya itu.... hmmm... enak sekali.


Setelah sarapan, kami bergegas ke kantor Daarul Qur’an untuk membersihkan diri. kantor yang cukup luas dengan dua lantai diatasnya dan AC yang membuat sejuk ruangan membuat kenyamanan tersendiri.
Setelah membersihkan diri dan berta’aruf dengan  staf kantor, kami segera pergi ke gunung merapi. Petualangan dimulai....
            Perjalanan dari kantor ke merapi cukup lama, entah kami melawati jalur mana aku tidak begitu tau. Aku terpaku pada handpone ditanganku. Beberapa saat kemudian ku tertidur, mungkin mangantuk karena semalaman aku tidak cukup tidur. Rasanya lelap sekali aku tertidur, tidak terasa kami sudah memasuki wilayah merapi. Jalanan berliku dan terjal juga debu yang begitu tebal menjadi trak tersendiri. Sesaat mobil terhenti untuk memberi jalan truk-truk besar yang melintas. Di tengah perjalanan pemandangan begitu indah, tebing-tebing curam, bebatuan yang besar, bukit-bukit yang indah menjadi pemandangan disepanjang perjalanan kami. Kira-kira kami menempuh perjalanan 2 jam. Dari kejauhan sebuah tugu bertuliskan “KAMPUNG QUR’AN MERAPI” menjadi ucapan selamat datang. Kami pun turun dan disambut ramah oleh warga dan pengurus kampung qur’an yang bernama mas Aryo, pria tinggi putih, dengan wajah teduh dan khas jawanya itu. Kami langsung merebahkan diri sejenak di saung qur’an. Setelah melonggarkan kembali otot-otot, ku bergegas keluar. Melihat-lihat sekeliling tempat ini. Ada sebuah masjid yang lumayan besar tepat di sebelah kanan saung qur’an, sebuah kandang sapi disebelah kirinya. Kami semua berfoto, dan berkeliling. aku pergi ke kandang sapi untuk sekedar berkenalan dengan lima sapi itu
, memberi makan dan berfoto-foto. Setelah itu kami kembali kesaung untuk mencicipi kue-kue yang disuguhkan mas Aryo sambil berbincang-bincang. Sungguh luar biasa yang namanya mas Aryo ini. Beliau adalah lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Komunikasi Pembangunan. Beliau sudah satu tahun menetap di kampung qur’an ini untuk mengabdikan diri. sempat ada ustad lain yang membantu, tapi beliau mengundurkan diri. Mas Aryo sungguh luar biasa, mengamalkan ajaran islam sendirian dan menetap di merapi ini. Yang apa kalian tau? Jarak dari sini ke pasar saja 5km. Beliau mengabdi sendiri dan berbaur pada masyarakat sekitar. Apa kalian tau? Dulu misionaris sempat akan menguasai daerah sini, dengan sigap Daarul Qur’an mencegahnya. Sekitar 80 rumah qur’an semi permanen dibangun untuk para penduduk sini
, dan tiga saung qur’an untuk tempat menuntut ilmu, juga beberapa masjid dibangun untuk media penyebaran ajaran islam. Apa kalian tau? Sebelumnya masyarakat sini masih jauh dari ajaran islam. Konon sebelum kejadian gunung merapi meletus tahun 2010, masyarakat disini banyak yang meminum minuman keras, bermain judi, dan lain-lain. Banyak pula yang masih menganut paham animisme. bukan hanya sekedar berdakwah atau mengajarkan ajaran islam. Bantuan, dukungan, dan suport yang harus kita berikan. Entah  itu dengan materil, material, ilmu, semangat, dan perhatian. Mereka semua butuh kita, butuh uluran tangan kita, bukan sekedar perkataan atau dakwahan kita saja. Pendekatan secara fisik dan psikologispun nyatanya memang diharuskan. Bagaimana mas Aryo bersusah payah menarik para penduduk agar mau mengikuti ajaran islam, itu sangat sulit. Ikut berbaur dengan masyarakat, menjadi bagian dari masyarakat, mengikuti kegiatan masyarakata dalam hal positif seperti berkebun, berternak, dan lain sebagainya. Menarik hati anak-anak dengan cara bermain bersama, semua itu mas Aryo lakukan demi menarik hati mereka agar mau mengikuti ajaran islam dan meninggalkan kebiasaan buruk mereka yang sebelumnya. Mendengar cerita mas Aryo pada bulan puasa kemari, saat waktu sahur tiba terdengar suara gemuruh yang tak ada hentinya. Beberapa orang mungkin berpikir itu suara truk pengangkuit pasir tapi ternyata tidak. Itu sebuah suara dari perut gunung. Masyarakat berbondong-bondong memperingati masyarakat lainnya. Mas Aryo ikut keluar, semua penduduk berhamburan keluar. Mereka segera menepi ke pengungsian di bawah kaki gunung yang jauhnya kira-kira 5km. Dengan pencahayaan obor yang seadanya mereka semua berjalan melintasi lintasan yang terjal. Betapa tidak?  Turunan gunung yang terjal, pepohonan yang rindang, serta kegelapan malam yang kelam mereka taklukan bersama-sama untuk menyelamatkan diri. mereka takut terjadi hal yang serupa seperti kejadian merapi tahun-tahun yang lalu. Seorang Da’i yang tak masuk tv, begitulah sebutanku kepada mas Aryo. Begitu banyak pengorbanan yang beliau lakukan, terpaut usianya yang masih sangat muda, kira-kira diatas 20 tahun mungkin 25 tahun. Dengan usia yang begitu muda, beliau melakukan sesuatu yang sangat mulia dan luar biasa. Aku sirik melihatnya, aku sirik mendengar ceritanya, aku sirik memandang keteguhan sikapnya. Setelah lama berbincang, kami segera makan siang lalu sholat dzuhur bersama. Setelah itu aku, teh Novi dan teh Lexy diantar mas Aryo untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk yang jaraknya cukup dekat dengan saung qur’an. Rumah bu uin yang begitu sederhana namun hangat dibuatnya, karena penghuni rumah begitu ramah dan membuat kami nyaman. Kami beristirahat sejenak sampai ba’da ashar, aku langsung sholat.
Kami bergegas turun untuk pergi ke saung qur’an yang dibawah
. Bertemu adik-adik yang akan mengaji.Jalanan terjal berdebu, jembatan kayu rapuh, pepohonan lebat dan  jalan turunan menjadi trek perjalanan kami saat itu. disana adik-adik sudah menunggu untuk lekas setoran membaca iqra. Kira-kira anak TK sampai kelas 4 SD yang berada disana. Kamipun ikut membantu mas Aryo untuk mendampingi mereka. setelah mengaji, kami bermain bersama.

Setidaknya memberikan perkenalan yang mengesankan bagi mereka. oh ya, ada panggilan khusus dari mas Aryo untuk mereka. Jika mas Aryo memanggil “Santri....” mereka menjawab “Siap ustadz...’. jika mas Aryo panggil “Santri, santri, santri” mereka menjawab “Siap, siap, siap”. Sungguh menyenangkan melihat mereka semua begitu antusias mengaji. Aku jadi terharu, membayangkan dulu mas Aryo bersusah payah menjemput mereka agar mau menuntut ilmu di saung qur’an yang katanya dengan sedikit paksaan dan bujukan. Dan alhamdulillah sekarang mereka sudah sadar akan hal itu. bukan hanya anak kecil saja yang menuntut ilmu, para remaja, orang dewasa bahkan kakek nenek pun tak mau ketinggalan. Ada yang masih iqra 1, iqra 2 tapi mereka tak patah semangat untuk menuntut ilmu. Mengikuti ajaran islam dengan sungguh-sungguh. Banyak yang mas Aryo ajarkan kepada masyarakat merapi disana.Setelah itu, kami sholat magrib dan isya disana. Kami pulang ke saung qur’an atas sekitar jam 7.30 malam. Cukup menakutkan, dipegunungan yang hanya ada pencahayaan lampu seadanya kita berjalan membelah kegelapan malam. Sebuah pengorabanan kecil yang kami lakukan jauh dari pengorbanan mas Aryo bahkan lebih jauh dari pengorbanan Walisongo dan sangat amat jauh dari perjuangan nabi Muhammad. Setelah sampai saung qur’an, kita dijamu makan malam spesial. Ayam goreng, sayur, sambal, lalapan, dan lainnya. Dengan lahap kami semua menyantap makanan yang disuguhkan dengan ala lesehan. Masyarakat yang memasak itu semua untuk kami. Subhanalloh, begitu ramah dan baiknya kami diterima dikampung ini. Setelah menyantap hidangan mas Aryo mengantar para akhwat ke rumah bu Uin sedangkan para ikhwan bermalam disaung qur’an. Beruntunglah ada kamar tertutup didalam saung, jadi mereka tidak akan kedinginan.oleh hebusan angin pegunungan yang begitu dingin yang membuat kami semua mengeluarkan asap dari hidung dan mulut kami. Setelah sampai rumah bu Uin, kamipun beristirahat, karena esok hari kita akan traking ke gunung merapi, mendekati puncaknya. Wah luar biasa, selintas aku jadi ingat film 5cm. Heheh
            Keesokan harinya tepat pukul 5 pagi aku dibangunkan teh lexy, aku bergegas sholat. Setelah beberapa lama mas maulana membangunkan kita lewat telepon. Para ikhwan sudah menunggu kita diluar. Kami bergegas merapihkan diri dan berangkat mendaki gunung. Aku hanya berpakaian kaos, jaket tipis lalu dilapisi jaket tebal yang ku pinjam dari teh lexy, untunglah beliau membawa dua jaket jadi aku dapat meminjamnya dan dengan beralaskan kaos kaki dan sendal jepit.
Kami mendaki gunung, dengan nafas yang terengah-engah, dengan kaki yang terkadang lemah, dengan semangat yang tak terkalahkan. Kami berjalan terus menerus, walau lelah menyelimuti tapi semangat kami tak kunjung mati. Walau dingin yang luar biasa menyelimuti dengan semangat yang membara dapat menghangtkan kami. Kan kami taklukan gunung merapi ini dengan kaki kami yang berpijak dibumi pertiwi ini. Lebay sekali rasanya, tapi memang begitu adanya. Perjalanan kira-kira 1 jam lebih. Pemandangan yang indah mengusir rasa lelah kami. Tebing, jurang, pepohonan rindang kicauan burung, dan suasana alam yang mendukung membuat aku terhanyut dengan suasana disini. Diperjalanan sesekali kumelihat penduduk yang mebawa arit, entah untuk apa. Yang mencengangkan, aku melihat sosok nenek-nenek yang berjalan mendaki gunung. Sungguh luar biasa sekali, kami yang masih muda ini dengan berjalan tergopoh-gopoh. Beliau yang sudah lanjut usia ini begitu gigih dan semangat, sungguh luar biasa. Aku tak banyak bicara, karena aku tidak menguasai bahasa jawa. Jika menyapa penduduk disitu, aku hanya melemparkan senyuman dan tundukan kepala saja kurasa itu sudah cukup. Perjalanan kami terhenti sampai di pos pantau saja. Kami tidak melanjutkan ke puncak gunung merapi karena waktu kami tidak cukup banyak. Tapi sungguh pemandangan yang amat sangat luar biasa.


Bukit-bukit nan hijau, pegunungan yang berbaris rapih, angin berhembus dengan patuhnya, dan suasana alam yang sangat sejuk memanjakanku. Aku dan rombongan tak ingin kehilangan momen seperti ini. Aku yang sedari tadi merekam keindahan dari bawah sana, sejak sampai diatas ini, semuanya berfoto mengabadikan keindahan ciptaan Alloh. Aku lekas naik ke atas pos pemantau, diatas sana semua pemandangan tersapu oleh pandanganku. Sungguh luar biasa keagungan potrot indah yang Alloh ciptakan.
            Setelah beberapa lama menikmati panorama gunung merapi, kami bergegas turun kembali. Membersihkan diri dan sarapan pagi. Sekitar jam 12 siang, pihak Daarul Qur’an Jogja menjemput kami. Kami segera berpamitan dan berfoto untuk kenang-kenangan. Rasanya begitu berat hati meninggalkan kampung qur’an merapi, beritu banyak pelajaran berharga yang ku dapat dari sana. Sebuah pengorbanan besar, sebuah perbuatan yang amat sangat mulai, dan sebuah keteguhan dan keikhlasan hati yang begitu besar. Setelah itu kami bernagkat ke Daqu clinic. Perjalanan kira-kira 1 jam lebih, seperti biasa aku tertidur lelap. Disana kita berkenalan dan berbincang dengan para perawat disana. Berkeliling di sekitar clinic yang amat sangat bersih, namanya juga clinic. Ada ruang laboratorium,

ruang pasien wanita, pasien pria, ruang nifas, ruang bersalin, ruang tindakan, ruang terapi al-qur’an, dan lain sebagainya. Setelah berkeliling kami berkumpul di ruang terapi qur’a, berkenalan dengan ustadz fauzan. Kami disuruh bercerita tentang perjalanan kami selama dijogja, sepertinya beliau sedang membaca kepribadian kami. Ya, aku bercerita dengan gayaku sendiri. Setelah itu kami dapat kajian-kajian al qur’an dari beliau. Beberapa lama berbincang, kami segera pulang dan lekas menuju penginaman untuk menyimpan barang karena malam harinya kami akan pergi ke Gor Among Rogo. Setelah sampai dipenginapan kami langsung membersihkan diri, sholat, dan lekas ke TKP. Dengan berjalan kaki menikmati suasana Jogja yang hangat dan bersensasi lain. Akhirnya beberapa lama kemudian kami sampai di Acara Indonesia berjamaah
yang diadakan ustadz Yusuf Manshur. Beruntunglah, aku rombongan mendapat undangan, jadi diberi kehormatan duduk dipaling depan dan mendapatkan beberapa snack. Acara mulai pukul 8 malam sampai 10 malam. Ustadz menyampaikan tentang patungan usahanya. Mengajak masyarakat agar membeli Indonesia kembali sedikit demi sedikit. Menjadi inventaris, bukan menjadi buruh saja. Setelah itu aku, teh Novi, teh Lexy dan kang Maulana segera melangkahkan kaki kedepan Gor untuk mengedrop taxi untuk pergi ke Malioboro. Teman-teman yang lain tak menyusul, mereka pulang dan beristirahat dipenginapan. Kami turun di Bang Indonesia, berjalan disekitar Malioboro, melihat-lihat bangunan sekitar. Melihat taman pintar, benteng vredeburg, jalanan malioboro, jajanan pinggir jalan dan kumpulan anak remaja yang sedang menikmati dunia malam. Berjalan membelah dunia malam di malioboro
, menikmati kuliner khas Jogja dan berbelanja beberapa kaos. Setelah itu kami langsung segera pulang ke penginapan, agar besok pagi kami tidak kesiangan bangun untuk kembali ke kota Bandung. Sesampainya di penginapan, kami langsung membersihkan diri dan kemudian tidur. Keesokan harinya kami bergegas bangun dan bersiap ke terminal untuk lekas membeli tiket bis ke Bandung.
Rasanya belum puas berjalan-jalan, hanya segilintir sisi Jogja yang aku singgahi. Walau begitu, sepertinya begitu banyak cerita yang aku alami. Tunggu aku datang kembali, menjelajahi setiap sudut Jogja yang belum ku tapaki. Perjalanan yang amat sangat berarti menjadi memori dan sensasi tersendiri.   

6 comments:

Prayogi Karindyka said...

Hebat Nes !
Keren !
:D

nesya puspita said...

alhamdulillah... mkasih mas dika :)

EKA IKHSANUDIN said...

klo inget Yogya, jdi pengen Mudik ke yogya teh xixiiii..... mantap perjalanan teh Nesya ... :)

nesya puspita said...

hehehekalau mudik jangan lupa oleh-olehnya ya pak. hehehe
iya, berkesan banget pak

budie mulyono said...

Mantaaappp tulisannya

budie mulyono said...

Mantaaappp tulisannya

Post a Comment

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YAH ... ;)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons